Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Oktober 2017

Menjadi seorang anak yang Broken Home

Diposting oleh Erwin Arianto di 01.45 0 komentar
Menjadi seorang anak yang Broken home, bukanlah merupakan hal yang diinginkan oleh setiap anak di dalam suatu keluarga. Melihat ayah dan ibu bertengkar di depan matanya setiap malam, Melihat mereka saling berjalan berjauhan,atau Sudah tidak mesra lagi seperti dulu , adalah sebagian besar dari apa yang tak mereka inginkan. Dan kata-kata Cerai atau Pisah itulah yang merupakan awal dari ketakutan terbesar mereka.Menjadi seorang 'Anak Broken Home' bukanlah yang mereka inginkan.
 Perceraian, bagi kedua pasangan yang telah menikah namun memiliki konflik dalam keluarganya, terkadang  adalah sebuah solusi yang mereka pikir  akan mengakhiri permasalahan mereka, namun tak jarang mereka secara tak sadar menganggap itu hal yang terbaik, dan secara tak sengaja pula menjadikan anak-anak sebagai 'korban' dari keputusan mereka.
Perceraian,tak hanya berdampak pada  orang tua saja, namun juga berdampak bagi anak-anak mereka.
'Anak Broken Home' tiga kata yang menakutkan bagi anak-anak yang memiliki keluarga yang telah berpisah. Terkadang, penyematan nama itu, membuat hidup mereka hancur. Mereka butuh dari sekedar motivasi untuk membuat mereka dapat bangkit kembali dari keterpurukan mereka.

 "Di dunia ini, siapa yang mau kedua orang tuanya bercerai? Tidak ada tentunya."Dan tidak ada pula anak-anak yang ingin menjadi seorang anak yang 'broken home'.

Berikut ini adalah pesan bagi mereka, seluruh anak broken home yang sedang berjuang untuk menata hidupnya kembali,setelah mengetahui kedua orang tuanya telah berpisah :

1. Berasal dari keluarga tak utuh tak menjadikan hidup kalian tak utuh juga. Mereka tetap orangtua kalian selamanya.


"Mempunyai keluarga yang tak lagi utuh,bukanlah kemauan kami." 
"Keluarga kamii yang awalnya utuh, menjadi tak utuh akibat perceraian. Kami pun merasa hidup kami tak lagi utuh."

Mungkin, itulah yang terbersit dalam pikiran mereka. Apa yang mereka pikirkan,itulah yang mereka lakukan. Mereka berpikir bahwa keluarga mereka tak utuh lagi, dan seringkali mereka pun merasa bahwa hidup mereka tak lagi utuh.
"Untuk kalian di luar sana," ingatlah bahwa kalian masih memiliki kedua orang tua , mungkin kedua orang tua kalian telah berpisah, tak lagi tinggal di satu rumah. Tapi, cinta  mereka akan terus mengalir untuk kalian. Kalian masih memiliki mereka sebagai orang tua kalian. Kasih sayang mereka pun akan tetap tercurah untuk kalian.Jangan lagi menganggap hidup kalian tak utuh."

2. Kalian masih berhak untuk bahagia.


Setelah perceraian kedua orang tua kalian, hari-hari kalian mungkin diwarnai dengan air mata. Rasa marah, kecewa, sedih,semua perasaan itu bercampur menjadi satu.
Rasa ingin tersenyum,tertawa,seolah-olah menjadi asing bagi kalian. Menangis dan bersedih itu yang kerap kalian lakukan. Mungkin, tak ada yang menyadari bahwa kalian sedang bersedih, karena kalian jarang menampakkannya pada orang - orang di sekeliling kalian.
Mungkin, hal yang akan disampaikan ini terdengar klise bagi kalian. Tapi,hal ini perlu ditekankan agar kalian tahu bahwa,"

"Kalian masih berhak untuk bahagia".
Tersenyumlah, karena kalian masih mempunyai hari-hari kedepan yang panjang,kalian juga tak boleh terus menangis dan bersedih. Di luar sana, masih banyak orang-orang yang memiliki kisah hidup,yang mungkin lebih buruk dari kalian.

"Tersenyum dan berbahagialah"
3. Kalian harus kuat, demi orang-orang yang kalian sayangi dan menyayangi kalian.

Kalian mungkin, merasa bahwa kalian telah kehilangan orang tua kalian. Tapi, kalian harus ingat. Masih banyak orang yang menyayangi kalian. Kalian harus kuat demi mereka.
Mungkin, kalian adalah anak satu-satunya di keluarga. Jadi, kehilangan orang tua kalian, adalah hal yang cukup sulit untuk kalian hadapi.
Tapi, berbeda halnya  jika kalian mempunyai saudara. Baik kalian merupakan anak tertua, anak tengah, atau anak yang paling bungsu. Kalian masih mempunyai kewajiban untuk menjaga mereka, saudara kalian. Kuat dan tegarlah demi saudara kalian, dan demi orang-orang yang kalian cintai dan sayangi
Menjadi kuat,bukanlah merupakan suatu hal yang salah. Dengan menguatkan diri kalian. Nantinya, kalian akan mampu menghadapi masalah atau persoalan yang lebih besar.
"Jadi,kalian harus meyakinkan diri kalian bahwa kalian kuat dan mampu dalam menghadapi persoalan ini."
4. Jangan terus larut dalam kesedihan.

Kalian mungkin menangis semalaman di dalam kamar kalian.

Tak ingin mendengar penjelasan apapun dari kedua orang tua kalian.
 Tindakan yang seringkali kalian lakukan adalah masuk ke  kamar kalian, mengunci pintu, menutup telinga kalian,lalu mengangis tak henti-hentinya di atas tempat tidur.Kalian terus menangis, bahkan tak jarang kalian melupakan hal-hal penting lainnya.Rasanya tak ada gairah dan semangat untuk melakukan apapun. Kalian menangis, dan terus menangis.

Tapi, apakah kalian tahu bahwa terus larut dalam kesedihan adalah hal yang tak baik?"
Kalian mungkin melupakan hal penting seperti makan, tidur, atau hal lainnya, ini mungkin akan berdampak buruk untuk kesehatan kalian. Kalian bisa sakit, dan mungkin akan membuat susah seisi rumah dan tentunya membuat kedua orang tua kalian bersedih melihat kalian.
"Bukankah sudah cukup kalian melihat mereka terbebani dengan masalah mereka?"Apa kalian ingin melihat kedua orang tua kalian bersedih lalu juga terbebani karena kalian?."
"Jangan kalian terus menerus bersedih. Ingatlah bahwa setelah kesedihan, akan datang kebahagiaan."Mungkin,air mata kalian, nantinya akan berubah menjadi senyuman. Yakinlah."
5. Terus semangat, terus berjuang. Kalian masih punya mimpi yang layak diperjuangkan

Sudahlah, hapus air mata itu. Jalan kalian masih panjang.
Perpisahan kedua orang tua kalian, tidak boleh menjadikan kalian lemah. Kalian pasti mempunyai mimpi-mimpi yang ingin kalian wujudkan. Sebelumnya, mimpi-mimpi kalian itu layaknya balon di udara,yang terus kalian pegang erat-erat. Dan kalian tak ingin melepaskannya.
Namun, setelah kedua orang tua kalian berpisah. Mimpi-mimpi itu kalian lepaskan. Kalian tak ingin lagi memikirkannya. Semua mimpi-mimpi itu semakin jauh untuk kalian gapai, dan semua jalan menuju mimpi-mimpi itu seperti jalan yang gelap, yang kalian sendiri tak tau kemana harus mengarahkannya.

Yang harus kalian lakukan adalah,"
"Terus semangat, terus berjuang, jangan pantang menyerah. Wujudkan kembali mimpi-mimpi kalian. Karena hanya kalian sendiri yang mampu mewujudkannya.Tak ada satupun orang yang mampu mewujudkan selain kalian."
"Yakinlah, bahwa mimpi-mimpi kalian akan terwujud. Jika mimpi-mimpi itu awalnya untuk kalian. Sekarang,motivasi diri kalian untuk mewujudkannya bukan hanya demi kalian sendiri, tapi juga demi orang tua kalian.
Orang tua kalian pasti bangga dan bahagia aabila melihat anaknya masih memiliki semangat untuk terus mewujudkan cita-cita serta mimpi-mimpinya."
6. Perceraian orangtua bukanlah akhir segalanya. Justru acuan awal untuk hidup lebih baik ke depannya.

"Ingatlah, bahwa setiap hal yang terjadi, baik atau buruknya. Pasti, kita akan mendapatkan pelajaran dari hal tersebut."
Hal yang sama juga berlaku terhadap kalian. Walaupun orang tua kalian sudah bercerai, tapi kalian harus tetap semangat dan berjuang untuk diri serta hidup kalian di masa depan.Seharusnya, apa yang terjadi terhadap kedua orang tua kalian, menjadi pelajaran tersendiri bagi kalian.
Suatu saat, jika kalian membangun sebuah keluarga nanti, bangunlah keluarga dengan baik.Dan jadikanlah peristiwa buruk yang menimpa kedua orang tua kalian, menjadi peringatan bagi kalian, bahwa kalian harus hidup lebih baik kedepannya.


"Perceraian kedua orang tua kalian, bukanlah akhir, melainkan awal yang baru bagi kalian,untuk mendorong kalian untuk hidup lebih baik di masa depan." 

Untuk kalian, anak-anak hebat. Anak-anak yang kuat serta tegar. Jangan bersedih, tetap semangat, tetap tersenyum. Apa yang sudah terjadi di masa lalu, biarkanlah itu menjadi pelajaran bagi kalian di masa depan. Perceraian orang tua kalian jangan sampai menjadikan kalian menjadi tertekan, atau terbebani. Apa yang telah terjadi, merupakan kehendak Yang Maha Kuasa. Yakinlah, bahwa semua ini terjadi pasti untuk yang terbaik.
Tugas kalian sekarang ,adalah lanjutkan hidup kalian, wujudkan mimpi-mimpi kalian. Tetap bahagiakan kedua orang tua kalian.Hidup kalian masih akan terus berlanjut.
Jangan dengarkan omongan-omongan orang lain di luar sana yang mungkin memandang rendah kalian. Tunjukkan, bahwa meskipun kalian berasal dari keluarga yang'broken home' , kalian masih mampu berkarya dan berguna bagi orang - orang di sekitar kalian. Tunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan negatif yang mungkin timbul terhadap kalian, itu tidak benar.

Kalian adalah anak-anak yang kuat dan mampu.
 "Yakinlah,bahwa Tuhan takkan menguji hambanya,jika Tuhan tak yakin hambanya mampu menghadapinya. Kalian diuji, karena Tuhan yakin, kalian mampu menghadapinya. Semangat!"

Selasa, 13 Juli 2010

Mendidik Anak Dengan Cinta

Diposting oleh Erwin Arianto di 00.16 1 komentar
“Dasar bandel! Dasar anak nakal! Sudah dibilangi kalau minta susu ya diminum, dihabisin. Nggak malah ditumpahkan ke lantai seperti itu! Susu itu mahal!” Seorang ibu uring-uringan memarahi Fifi, anaknya yang baru berusia 3 tahun. Bagaimana ia tidak jengkel, bila lantai yang baru saja dipel kini kotor lagi oleh tumpahan susu si kecil. Si kecil pun diam sambil menatap wajah ibunya yang kecapekan.

Sementara seorang ayah memarahi Latif, anaknya yang kelas satu SD, setelah dilapori wali kelasnya bahwa anaknya itu ketahuan mencuri uang temannya. “Kecil-kecil sudah jadi pencuri! Mau jadi apa kamu kalau besar nanti?” Katanya sambil berkacak pinggang.

Memang, mendidik anak memerlukan kesabaran ekstra. Ada kalanya orang tua kehilangan kontrol saat kondisi fisiknya lelah atau emosinya tidak stabil. Kata-kata makian terhadap anak seperti bandel, nakal, badung, dan sebagainya, seringkali meluncur tanpa dapat ditahan. Padahal, makian atau celaan seperti itu akan sangat menjatuhkan harga diri anak dan berakibat buruk bagi perkembangannya.

Mencerca Pribadi Hancurkan Harga Diri

Dalam masa perkembangannya semenjak lahir, setiap anak belajar menilai segala sesuatu. Begitu juga yang terjadi pada persoalan penilaian diri. Setiap anak akan menilai dan memandang seperti apa keadaan dirinya sendiri sesuai dengan cara pandang orang tuanya terhadap diri si anak.

Apabila pribadinya sering dicerca dengan julukan-julukan burukseperti anak nakal, bengal, tak tahu aturan, pencuri, bodoh, pemalas, dan sejenisnya, maka akan terbentuk keyakinan dalam diri anak bahwa memang seperti itulah sebenarnya taraf kepribadiannya. Selanjutnya ia akan merasa wajar jika berbuat nakal, toh ayah ibu menyebutnya ‘anak nakal’.

Perkembangan buruk seperti ini bila diteruskan akan sampai pada tahap di mana anak akan selalu berusaha berperilaku sesuai anggapan terhadap kepribadiannya tersebut, sehingga ia akan merasa tak pantas jika berbuat baik, yang notabene menyalahi keyakinannya sebagai anak nakal dan bengal tersebut.

Sampai tahap ini perilaku anak bisa jadi sangat membuat orang dewasa terheran-heran, sebab ia sudah tak mempan lagi diberi nasihat dan motivasi untuk mau berbuat baik, kecuali jika perbaikan dimulai dengan mengubah cara pandangnya yang keliru dalam menghargai pribadinya sendiri. Sungguh ini sebuah perbaikan yang sulit untuk dilakukan.

Begitulah kenyataannya, bahwa setiap orang membentuk kepribadian sesuai dengan cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Itu sebabnya, akan sangat fatal akibatnya jika dalam masa perkembangan anak diberi contoh untuk menilai dirinya dengan sebutan dan panggilan yang buruk.

Anak tetap anak, sekalipun perilakunya buruk. Yang buruk adalah perilakunya, sementara pelakunya tetaplah anak baik. Jika patut dibenci, maka perilakunya yang harus dikutuk, bukan pelakunya. Sang anak sebagai pelaku tetap berhak untuk dicintai, disayangi, dan dihargai.

Jika Anak Salah, Tegur Perilakunya

Ketika seorang anak berbuat kesalahan, orang tua harus menegur ‘perilaku’ tersebut, tanpa mencela pelakunya. Anak harus mengerti letak kesalahannya. Ia harus mengerti betul bahwa orang tuanya marah, kecewa dan membenci perilaku yang baru saja dilakukannya, bukan marah dan membencinya.

Agar anak tahu bahwa orang tuanya tidak menyukai perilakunya, maka sebaiknya orang tua menunjukkan perasaan kecewa, marah dan ketidaksukaannya dengan sejelas-jelasnya. Bisa dengan mimik wajah yang penuh emosi, bisa pula dengan kata-kata yang keras.

Kembali pada kedua contoh kasus di awal tulisan ini, untuk Fifi yang menumpahkan susunya, akan lebih baik bila ibu marah dengan menegur perilakunya. “Fifi, sudah ibu bilangi berkali-kali kalau menumpahkan susu itu jelek! Itu perbuatan mubadzir! Susu itu harganya mahal!”

Sedangkan untuk kasus Latif, akan lebih baik bila ayah tidak menyebutnya sebagai pencuri. “Latif, kamu kan tahu mencuri itu perbuatan buruk? Dosa! Kenapa kamu melakukannya? Kalau butuh uang, bilang sama ayah, jangan mencuri milik orang lain!”

Kedua contoh tersebut sudah dapat menggambarkan dengan jelas apa yang dirasakan oleh ayah dan ibu. Tujuannya agar anak mengerti perasaan orang tua tentang perilaku anak yang buruk itu. Di sisi lain diharapkan dalam diri anak sendiri akan timbul perasaan yang tidak enak menghadapi kemarahan orang tuanya.

Cukup Sekali Saja

Teguran orang tua cukup dinyatakan sekali saja, anak sudah bisa memahami perasaan orang tuanya. Bila pernyataan ini diulang-ulang justru akan menimbulkan kebosanan, dan anak merasa digurui. Cara mendisiplinkan anak seperti itu tidak efisien.

Banyak orang tua yang merasa perlu memberi nasihat panjang lebar terhadap kesalahan anaknya, karena menangkap kesan anak tidak mendengar nasihat yang dikatakan orang tua. Anak-anak itu berbuat seenaknya, tak mendengar omelan orang tua.Tingkah anak itu membuat orang tua jengkel dan merangsangnya untuk semakin memperpanjang dan mengulang-ulang nasihat, semata-mata untuk melampiaskan kejengkelannya.

Sekali lagi, sikap orang tua sebenarnya cukup dinyatakan sekali, ditunjang ekspresi wajah tak lebih dari satu menit. Inilah bagian awal dari metode disiplin yang disebut teguran satu menit. Selanjutnya, akan tercipta suasana yang tidak menyenangkan bagi anak. Pada saat ini sebaiknya orang tua diam sejenak agar suasana yang tidak enak ini benar-benar dirasakan anak. Manfaatkan waktu ini untuk menarik nafas panjang, seakan telah usai menyelesaikan tugas berat berupa pengungkapan rasa kecewa atas perilaku anak yang buruk.

Selanjutnya, Hargai Pelakunya

Bagian berikutnya adalah saatnya menggunakan kebenaran lain selain kebenaran pertama yang telah dikatakan terlebih dahulu. Kebenaran kedua ini adalah bahwa diri anak-anak sebagai ‘pelaku’ sebenarnya tetap baik, bahwa orang tua tetap mencintai sepenuh hati, karena mereka pada dasarnya adalah anak-anak yang salih.

Bagian kedua ini harus diucapkan orang tua dengan ekspresi wajah penuh kasih sayang dan kelembutan. Bila perlu dengan memeluk dan mencium, agar anak bisa langsung merasakan bahwa bagaimanapun buruknya perilaku mereka, ternyata orang tua tetap mencintainya. Pernyataan ini pun tidak perlu diulang, cukup sekali saja.

Misalnya, untuk kasus Fifi, setelah ibu marah dan menegur perilakunya yang buruk, maka sebaiknya ibu membelai kepalanya sambil berkata, “Fifi kan anak salihah, anak pintar. Lain kali jangan menumpahkan susu lagi ya sayang…”

Demikian juga untuk kasus Latif. Setelah ayah menunjukkan kemarahannya, alangkah bijaksananya bila kemudian ia memeluk anaknya itu seraya berkata, “Latif kan anak yang salih…Masa’ anak salih mencuri, nanti jadi temannya setan. Lain kali jangan diulangi lagi ya….”

Kelebihan Metode Ini

Metode teguran satu menit mempunyai banyak kelebihan.

Pertama, melatih disiplin anak-anak untuk bisa meninggalkan perilaku yang buruk. Dalam setengah menit yang pertama, anak mengerti bahwa tindakannya yang buruk telah membuat orang tuanya kecewa dan marah. Peristiwa itu akan masuk ke alam memorinya, selanjutnya memorinya mencatat mana perilaku baik yang disenangi orang tua, dan mana perilaku buruk yang membuat orang tuanya kecewa dan marah.

Selanjutnya, dalam setengah menit kedua, anak segera dapat menemukan kembali citra dirinya yang positif sebagai anak yang baik. Mereka sangat menikmati belai kasih orang tua dalam selang waktu yang singkat ini. Buahnya, mereka menjadi senang dan bagga terhadap dirinya sendiri yang baik seperti kata orang tuanya.

Satu hal penting yang tak boleh dilupakan orang tua adalah semakin anak menyenangi dirinya sendiri, semakin besar kemauannya untuk berperilaku lebih baik.

Keuntungan kedua, metode ini bisa digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak. Banyak orang tua mengeluh karena tak bisa memahami jalan pikiran anaknya. Banyak yang tak mengenal anaknya sendiri karena kemacetan komunikasi. Anak tak pernah mau menyampaikan permasalahan yang ia hadapi kepada orang tua. Dengan bantuan metode ini, sedikit demi sedikit mulai berkembang iklim keterbukaan antara orang tua dengan anak. Komunikasi pun menjadi lancar, akrab dan harmonis. Hal ini bisa terjadi karena keberanian orang tua menunjukkan perasaan terhadap anak tanpa mencerca. Dalam setengah menit pertama menyalahkan habis-habisan perilaku anak yang buruk. Tetapi setelah itu menyatakan bahwa diri pribadi anak selalu tetap baik dan dicintai orang tua.

Memang dalam praktiknya metode ini agak sulit dilakukan, karena orang tua seolah-olah harus ‘bersandiwara’. Setelah marah-marah harus mengungkapkan rasa sayang. Yang pasti, walaupun sulit, tetapi demi perkembangan jiwa anak, tentu metode ini layak untuk dibiasakan.
 

Info Ibu, Bayi & Keluarga Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea