Tampilkan postingan dengan label bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bayi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Desember 2017

Usia normal anak untuk bisa berjalan

Diposting oleh Erwin Arianto di 19.27 0 komentar
Rentang usia normal anak untuk bisa berjalan sebenarnya bervariasi, mulai dari usia 9-18 bulan. 

Terlepas dari kemampuan fisik anak, menurut Dr. Judith A. Hudson, pakar psikologi perkembangan anak dari The State University of New Jersey, New York, Amerika Serikat seringkali memanjakan anak sebagai biang keladinya. Misalnya, karena takut melihat anak jatuh saat belajar jalan, melangkah oleng sedikit saja, langsung dipegangi. Trauma ketika latihan jalan juga bisa menjadi penyebab, misalnya saat pertama kali melangkah, ia jatuh lalu terluka. 

Perlu khawatir ketika penyebab anak tidak kunjung berjalan adalah Hipotonia, yaitu kondisi yang ditandai dengan penurunan berat otot. Sedangkan Hipertonia yaitu kondisi yang ditandai dengan kenaikan berat otot. Atau keterlambatan berjalan diasosiasikan dengan masalah perkembangan mental anak, seperti keterbelakangan mental.

Tak perlu khawatir jika tidak ada gangguan saraf atau kelainan otot yang diderita anak. Cepat atau lambat, anak pasti akan berjalan. 

Bila saat ini si kecil sudah dapat berdiri sendiri dan mulai melangkah dengan berpegangan sekilas ia masih dalam taraf perkembangan yang normal. Terlebih bila tingkat perkembangan neuromotorik lain dan kognitif (kepandaiannya) sesuai dengan tingkat perkembangan seusianya. Memang pada sebagian anak, seusia si kecil ada yang belum dapat berjalan sendiri. Namun secara bertahap biasanya lambat laun ia dapat berjalan sendiri. Perlahan-lahan latihlah ia untuk memberanikan dirinya melangkah. 

Tahap perkembangan gerakan motorik normal 
- 6-8 bulan: Duduk dan merangkak dengan dua dengkul kaki. 
- 12-18 bulan: Berdiri tanpa bantuan, Berjalan dengan merambat ke perabotan di rumah, Berjalan 2 atau 3 langkah tanpa bantuan, Berjalan 10-20 menit tanpa bantuan. 
- 18-24 bulan: Berjalan tanpa kesulitan, Menarik mainan sambil berjalan, Membawa mainan besar sambil berjalan, Naik/turun bangku tanpa bantuan, Menemukan cara sendiri untuk berjalan mundur, Bisa naik/turun tangga dengan bantuan. 
- 24-36 bulan Umumnya mampu memanjat dengan baik, berjalan naik/turun tangga dengan menggunakan satu kaki per anak tangga, Berjalan jinjit. 

Konsultasikan pertumbuhan dan perkembangan anak ke dokter spesialis anak. 

Solusinya:
Lakukan pemeriksaan neurologis, penilaian terhadap fleksibilitas sendi, kekuatan otot dan berbagai gerakan dengan ahli syaraf.
Ajak anak untuk dititah. Cara tradisional ini terbukti ampuh untuk merangsang kemampuan berjalan.
Lakukan fisioterapi atas rekomendasi dokter bila latihan di rumah hasilnya tidak maksimal. Anak akan mendapat tip penguatan otot kaki di sana. 

Kamis, 12 April 2012

Bersyukur atas Kelahiran putri kedua

Diposting oleh Erwin Arianto di 01.10 5 komentar
Bersyukur dengan kelahiran putri kedua ku Qhaira, di balik proses kelahiran putri kedua ku terdapat hikmah yang dapat saya pelajari, dimana saya sempat salah perhitungan dalam menyediapkan dana untuk melahirkan putri saya tersebut, dana yang ada saya terpakai untuk membangun rumah sehingga dana yang ada sangat minim. dengan modal berdoa kepada Allah Swt. dan pasrah jika tidak kurang saya berencana menggunakan kartu kredit sementara untuk menutup biaya persalinan. tapi alhamdulillah suatu ketika ada rizky yang tak terduga dapat bonus dari kantor. jadi tersedia dana untuk melahirkan. Alhamdulillah.
Ketika kelahiran putri saya di sarankan untuk ceasar atas petunjuk dari RS tempat istri saya melahirkan. tetapi karena KPD (Ketuban pecah dini) akhirnya bayi saya harus masu ruang pernia atau ICU, diman biaya perhari untuk sewa kamar saja Rp 700 rb, subhanallah biaya yang cukup besar bayi saya di vonis mendapat leukosit tinggi 450.000 putri saya di rawat 5 hari kerja dengan total biaya total persalinan Rp 25.000.000 wow angka besar untuk saya. tetapi alhamdulillah ada asuransi yang mengcover biaya tersebut sehingga saya hanya membayar sedikit saja untuk kelebihan biaaya persalinan.
Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. ketika kita telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tetapi anda masih merasa kurang.Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu.
Boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa berbagai keinginan inilah yang menjadi akar perasaan tidak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan kurang berkecukupan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dansyukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatianAnda pada sifat - sifat baik atasan, pasangan, maupun orang - orang disekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Hidup kita akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kitamiliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.berhentilah mengeluh, Keluhan berbahaya karena membuat orang lupa atau buta akan kondisi sebaliknya, dan kalau diulang berkali-kali akan merasuk ke dalam jiwa dan menjadi sesuatu yang kita percayai.
Bersyukur adalah sebuah rasa terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas sebuah pemberian dari yang Maha Kuasa, entah bagaimanapun bentuk dan rupa pemberian tersebut. Bersyukurlah...Bersyukurlah bila kamu belum memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan.. Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu tentang sesuatu Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar..Bersyukurlah untuk masa - masa yang sulit..Di masa itulah kamu tumbuh.....Bersyukurlah untuk keterbatasanmu... Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang..Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...Itu memberi pelajaran yang berharga ...Mungkin mudah untuk kita bersyukur ketika mengalami hal - hal baik ...Namun, hidup yang berkelimpahan justru datang pada mereka yang tetapdapat bersyukur pada masa masa yang sulit ...Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif .. Karenaitu, temukan cara bersyukur ketika menghadapi permasalahan, maka semuaitu akan menjadi berkat bagimu ..
Dan Aku bersyukur pada mu ya Allah atas semua yang telah ku miliki, walau terkadang aku khilaf terkadang menyalahkan mu atas setiap keinginan yang tidak tercapai... aku bersyukur mempunyai keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, waktu yang cukup, aku bersyukur atas nikmat sehatmu.... Amin

Jumat, 18 November 2011

11 ciri bay lahir yang membuat ibu panik

Diposting oleh Erwin Arianto di 21.44 3 komentar
Menjadi ibu baru memang seringkali membingungkan. Kondisi bayi baru lahir yang baru bagi Ibu seringkali membuat panik. Berikut ciri khas bayi baru lahir yang masih normal dan kapan Ibu boleh panik.

* 1. Fesesnya hitam dan sangat bau.

Umumnya, feses pertama bayi (mekonium) berwarna hitam kehijauan, lengket dan cenderung bau seperti susu masam atau basi. Mekonium ini sangat penting, sebagai indikator apakah pencernaannya normal atau tidak. Boleh panik bila kondisi feses seperti ini berlangsung hingga 48 jam. Kemungkinan ada gangguan dalam pencernaannya atau kandungan zat besi yang terlalu tinggi.

* 2. Berat badan turun terus.

Bayi dilahirkan dengan membawa ‘tabungan’ cairan dan lemak, untuk membantu bayi menjalani masa peralihan kehidupan di luar rahim. Lama-lama, ‘tabungan’ ini tentu akan berkurang dan membuat berat badannya menjadi turun. Boleh panik bila dalam satu dua minggu berat badan bayi tetap turun meski sudah mendapat cukup ASI. Atau, bila bentuk feses bayi sangat cair.

* 3. Muntah setelah minum ASI.

Semua bayi akan memuntahkan sedikit ASI setelah menyusu (gumoh). Biasanya, ini karena ia belum disendawakan. Untuk membuatnya bersendawa: gendong bayi dengan posisi menghadap ke tubuh Anda, biarkan kepalanya tersangga di pundak Anda. Bantu dengan tepukan ringan di punggungnya. Boleh panik bila bayi Anda tetap muntah meski tidak habis minum ASI, apalagi bila disertai diare.

* 4. Selalu bersin-bersin.

Tidak selamanya bayi yang bersin-bersin pertanda ia akan flu atau sakit. Bersin juga merupakan salah satu proses pematangan dari sistem respirasi atau pernapasan bayi. Kebiasaan ini akan melegakan rongga hidung dan saluran napas dari berbagai sumbatan dan partikel-partikel udara. Boleh panik bila bayi bersin-bersin diikuti dengan demam atau muncul karena ia alergi pada sesuatu.

* 5. Menangis tiada henti.

Menangis merupakan salah satu cara bayi berkomunikasi dengan Anda. Dia ingin memberitahu kalau lapar, haus, atau merasa tidak nyaman. Boleh panik bila ia menangis kencang terus-menerus selama beberapa jam, terutama pada sore hari. Kemungkinan ia terkena kolik.

* 6. Enggan menyusu.

Bayi sedang dalam tahap belajar menyusu. Lambat laun, Anda berdua akan menemukan posisi menyusu yang tepat dan nyaman. Bila perlu, hubungi konsultan laktasi. Boleh panik bila bayi tetap tidak mau menyusu lebih dari 3 hari. Bagaimana pun dia perlu makanan atau asupan gizi dari ASI. Segera hubungi dokter.

* 7. Ubun-ubun berdenyut.

Ubun-ubun bayi berdenyut karena belahan-belahan tulang tengkoraknya belum menyatu dan mengeras dengan sempurna. Kira-kira setelah 2 tahun, denyut di ubun-ubun itu akan hilang. Boleh panik bila ubun-ubunnya tampak cekung karena ini bisa jadi gejala dehidrasi. Atau, kepalanya membengkak yang menunjukkan kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan seperti meningitis. Jangan ragu hubungi dokter.

* 8. Tali pusat basah atau lembab.

Tali pusat akan puput atau lepas dalam waktu 1 hari sampai satu minggu setelah bayi lahir. Lalu lukanya akan sembuh dalam waktu 15 hari. Selama proses ini, tali pusat tampak berwarna cokelat dan sedikit berbau lembab. Karena itu kebersihannya harus selalu dijaga agar tidak infeksi. Boleh panik bila bau yang ditimbulkan tali pusat sangat menyengat yang menandakan infeksi, dan umumnya akan diikuti dengan bengkak hingga mengeluarkan nanah. Segera bawa ke dokter.

* 9. Wajahnya berjerawat.

Bintil yang muncul di daerah pipi, hidung, dan dagu ini dinamakan Milia, namun sering disebut sebagai “jerawat bayi”. Jerawat ini disebabkan hormon ibu yang masih ada dalam tubuh bayi dan bisa terjadi sampai usia bayi 3-4 minggu. Kebanyakan akan hilang dengan sendirinya saat bayi berusia 4-6 bulan. Boleh panik bila Anda menemukan bintik putih ini muncul di sekitar mulut bayi. Bisa jadi itu karena virus dan bisa mengganggu fungsi oralnya.

* 10. Air seni seperti berdarah.

Sistem tubuh pada bayi baru masih dipengaruhi hormon estrogen dari ibu. Keberadaan hormon esterogen tersebut akan menyebabkan bayi mengeluarkan bercak darah seperti haid pada popoknya. Sejalan dengan menurunnya kadar hormon estrogen, kurang lebih dalam waktu tiga minggu, air seni bayi pun tak berwarna merah lagi. Boleh panik bila pendarahan ini terjadi lebih dari tiga minggu. Bawa ke dokter untuk pemeriksaan pada vagina/penisnya, atau gangguan pada saluran air seninya. Sebelumnya, cek juga pola BAB-nya, bisa saja darah itu bersumber dari feses atau anusnya. Jika ya, ini berarti ada gangguan dalam pencernaan atau anus bayi.

* 11. Kulit kering dan mengelupas.

Tidak sedikit bayi baru lahir yang memiliki kulit kering, mengelupas, ruam kulit dan memiliki tanda lahir. Bercak-bercak kebiruan di kaki dan tangan bayi juga merupakan hal normal di minggu awal kelahiran bayi. Semua ini akan hilang dengan sendirinya. Boleh panik bila kulitnya yang kering dan mengelupas berubah jadi memerah dan membuat bayi rewel karena gatal. Ini pertanda bayi terkena eksim.

Menjadi Ibu harus tenang dalam mempelajari segala kondisi yang terjadi pada bayi. Sehingga bisa mencari jalan keluar terbaik tanpa menjadi khawatir yang berlebihan.

Sumber: www.ayahbunda.co.id

Kamis, 14 Mei 2009

Pemilihan Susu Formula Terbaik

Diposting oleh Erwin Arianto di 03.35 18 komentar
Asi adalah susu yang terbaik bagi anak. Susu formula terbaik adalah susu yang cocok dan tidak menimbulkan gangguan. Bukan karena susu yang disukai, termahal, terkenal atau yang mengandung berbagai macam kandungan kecerdasan

Seorang ibu mendapat advis dari dokter bahwa anaknya harus memakai susu formula A. Saat mencari susu tersebut di supermarket mendapat informasi dari seorang SPG (Sales Promotion Girl) bahwa susu A mungkin tidak cocok karena tidak bisa menggemukkan jadi harus dengan susu B. Sesampai di rumah si ibu mencoba “curhat” pertelepon dengan temannya. Si teman mengatakan bahwa anaknya bisa gemuk dengan susu C karena lebih terkenal dan lebih mahal. Dengan perasaan bingung si Ibu mencoba konsultasi ke dokter lainnya ternyata advisnya berbeda lagi, anak harus minum susu D. Akhirnya si ibu malah menjadi bingung mendapat informasi yang sangat berbeda ini.

Orang tua sering dihadapkan pada masalah pemilihan jenis susu formula yang tepat dan baik untuk bayi. Masalah ini diperumit dengan semakin banyaknya susu formula yang beredar di pasaran. Informasi tentang pemahaman pemilihan jenis susu semakin banyak didapatkan, baik dari dokter, sales promotion di supermarket, iklan di media cetak dan elektronik, brosur atau dari pengalaman ibu lainnya. Informasi yang beragam inilah yang membingungkan orang tua, karena sering sangat berbeda dan berlawanan. Contoh tersebut menunjukkan bahwa kesulitan pemilihan jenis susu formula banyak dialami oleh para orang tua.

Pemilihan susu formula yang tidak tepat akan mengakibatkan gangguan beberapa fungsi dan organ tubuh seperti diare, sering batuk, sesak dan sebagainya. Gangguan sistem tubuh tersebut ternyata dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan serta mempengaruhi dan memperberat gangguan perilaku anak.

ASI adalah merupakan makanan terbaik untuk bayi dan anak. Tetapi menjadi masalah bila anak tidak dapat mengkonsumsi ASI dengan cukup karena berbagai kondisi dan keadaan. Penggunaan PASI (Pengganti ASI) menjadi alternatif yang tidak dapat dihindarkan. Pemilihan susu terbaik bagi anak harus dilakukan secara cermat dan teliti. Susu merupakan makanan bayi dan anak yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah banyak dan jangka panjang. Bila susu tersebut tidak cocok bisa menimbulkan gangguan tumbuh kembang yang terjadi terjadi terus menerus dalam jangka panjang.

SUSU FORMULA TERBAIK
Secara umum prinsip pemilihan susu yang tepat dan baik untuk anak adalah susu yang sesuai dan bisa diterima sistem tubuh anak. Susu terbaik tidak harus susu yang disukai bayi atau susu yang harganya mahal. Bukan juga susu yang banyak dipakai oleh kebanyakan bayi atau susu yang paling laris. Karena, susu formula dengan penjualan terbesar yang beredar di setiap negara selalu beredar. Di negara Indonesia misalnya susu formula merek A, di negara Amerika serikat merek B, sedangkan di Belanda mungkin merek C.

Susu terbaik harus tidak menimbulkan gangguan saluran cerna seperti diare, muntah atau kesulitan buang air besar. Susu yang terbaik juga harus tidak menimbulkan gangguan lainnya seperti batuk, sesak, gangguan kulit dan sebagainya. Penerimaan terhadap susu pada setiap anak sangat berbeda. Anak tertentu bisa menerima susu A, tetapi anak lainnya bila minum susu A terjadi diare, muntah atau malah sulit buang air besar.

Semua susu formula yang beredar di Indonesia dan di dunia harus sesuai dengan Standard RDA (Recomendation Dietery Allowence). Standar RDA untuk susu formula bayi adalah jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Dengan kata lain penggunaan apapun merek susu sapi formula yang sesuai usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak tersebut.

Susu yang paling enak dan disukai bukan merupakan pertimbangan utama pemilihan susu. Meskipun susu tersebut disukai anak, tetapi bila menimbulkan banyak gangguan fungsi dan sistem tubuh maka akan menimbulkan banyak masalah kesehatan bagi anak. Tetapi sebaliknya bila gangguan saluran cerna anak baik dan tidak terganggu maka nafsu makan atau minum susu pada anak tidak akan terganggu.

Harga susu yang mahal dan merek yang terkenal juga bukan merupakan jaminan bahwa susu tersebut yang terbaik. Keterkenalan merek susu formula tertentu di suatu negara atau daerah sebenarnya lebih karena pertimbangan keberhasilan strategi pemasaran dan penyediaan barang. Hal ini dapat dillihat bahwa susu dengan penjualan tertinggi di negara satu dengan negara lainnya di dunia sangat berbeda dan bervaiasi.

Penambahan AA, DHA, Spingomielin pada susu formula sebenarnya tidak merupakan pertimbangan utama pemilihan susu yang terbaik. Penambahan zat yang diharap berpengaruh terhadap kecerdasan anak memang masih sangat kontroversial. Banyak penelitian masih bertolakbelakang untuk menyikapi pendapat tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan pemberian AA dan DHD pada penderita prematur tampak lebih bermanfaat. Sedangkan pemberian pada bayi cukup bulan (bukan prematur) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna mempengaruhi kecerdasan. Sehingga WHO hanya merekomendasikan pemberian AA dan DHA hanya pada bayi prematur saja.

Penjualan susu formula adalah merupakan bisnis perdagangan yang sangat besar dan sangat menggiurkan. Setiap hari kita disuguhi promosi susu formula yang demikian gencar. Semua produsen susu berlomba-loba mengangkat isu kecerdasan dengan mengandalkan AA, DHA, Spingomielin dan sebagainya. Karena sangat gencarnya promosi “susu kecerdasan” ini, banyak orangtua menolak bila susu anaknya tidak mengandung AA dan DHA. Fenomena ini merubah perilaku produsen untuk selalu menambah zat kecerdasan pada semua produk susu dan makanan anak. Sehingga akhirnya penambahan kandungan AA dan DHA kesannya hanya untuk kepentingan bisnis belaka.

Penambahan prebiotik atau sinbiotik untuk memperbaiki saluran cerna bukanlah yang utama. Selama bahan dasar susu formula tersebut bisa diterima saluran cerna, maka penambahan kandungan tersebut tidak terlalu bermanfaat. Sebaliknya meskipun terdapat zat tersebut, tetapi bila beberapa kandungan dalam susu sapi tidak bisa diterima saluran cerna juga tidak akan memperbaiki keadaan. Bila terdapat masalah gangguan saluran cerna berkepanjangan yang penting adalah mencari jenis susu atau makanan lainnya yang dapat mengganggu saluran cerna tersebut.

MENGAPA SUSU FORMULA TIDAK COCOK
Pengaruh ketidak cocokan terhadap susu formula bisa disebabkan karena reaksi simpang makanan bisa karena reaksi alergi atau reaksi nonalergi. Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sIstem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Reaksi hipersensitif terhadap protein susu sapi dengan keterlibatan mekanisme sistem imun. Alergi terhadap susu formula yang mengandung protein susu sapi merupakan suatu keadaan dimana seseorang memiliki sistem reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul. Reaksi non alergi atau reaksi simpang makanan yang tidak melibatkan mekanisme sistem imun dikenal sebagai intoleransi. Intoleransi ini bisa terjadi ketidakcocokan terhadap laktosa, gluten atau jenis lemak tertentu.

Reaksi simpang makanan tersebut terjadi karena ketidakcocokan beberapa kandungan didalam susu formula. Bisa terjadi karena ketidakcocokan terhadap kandungan protein susu sapi (kasein), laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya.

Alergi susu sapi adalah alergi terhadap kandungan protein tertentu yang ada di dalamnya. Banyak penelitian mengenai alergenitas protein susu sapi. Terdapat lebih dari 40 jenis protein yang berbeda dalam susu sapi yang berpotensi untuk menyebabkan sensitivitas. Kandungan pada susu sapi yang paling sering menimbulkan alergi adalah lactoglobulin, selanjutnya casein, lactalbumin bovine serum albumin (BSA). Analisa Immunoelectrophoretic menunjukkan bahwa casein berkurang alergenisitasnya setelah pemanasan sekitar 120 C selama 15 menit, sedangkan lactoglobulin, lactalbumin berkurang terhadap pemanasan lebih dari 100C. BSA and gammaglobulin kehilangan antigenisitasnya pada suhu antara 70C – 80C.

GEJALA REAKSI ALERGI SUSU SAPI ATAU REAKSI SIMPANG SUSU FORMULA
Gangguan akibat ketidakcocokan susu formula bisa timbul karena reaksi cepat atau timbulnya gejala kurang dari 8 jam. Pada reaksi lambat atau gejala baru timbul setelah lebih dari 8 jam, atau kadang setelah minum susu 5 atau 7 hari baru timbul keluhan. Tanda dan gejala ketidak cocokan susu formula atau alergi susu hampir sama dengan alergi makanan. Gangguan tersebut dapat mengganggu semua organ tubuh terutama pencernaan, kulit, saluran napas dan organ lainnya.

Tabel 1. Kondisi klinis yang dapat diperberat karena reaksi alergi atau reaksi simpang susu formula

* GANGGUAN SALURAN CERNA: Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering rewel, gelisah atau kolik terutama malam hari. Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, Feses berwarna hijau, hitam, berbau, sangat keras, cair atau berdarah. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
* Bila gangguan saluran cerna terjadi jangka panjang akan mengakibatkan : daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (batuk, pilek, panas, tonsilitis (amandel) berulang kadang setiap bulan atau lebih)
* Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
* Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru). Gusi tampak bengkak seperti tumbuh gigi.
* Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
* Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS) Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu) Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah.
* Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
* Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
* Karena pencernaan terganggu bayi sering minum berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun).
* Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat. Sering berkeringat (berlebihan) terutama dahi, daerah rambut meskipun dalam suhu udara dingin dan menggunakan ac.
* Gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih

Reaksi simpang makanan seperti ketidakcocokan susu formula terutama mengganggu sistem saluran cerna. Gangguan saluran cerna tersebut kadang mengakibatkan gangguan permeabilitas pada saluran cerna atau leaky gut. Banyak penelitian terakhir mengungkapkan bahwa gangguan saluran cerna kronis dengan berbagai mekanisme imunopatofisiologis dan imunopatobiologis ternyata dapat mengakibatkan gangguan neurofungsional otak. Gangguan fungsi otak tersebut mempengaruhi gangguan perilaku seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan Autis.

Tabel 2. Gangguan perilaku dan motorik (gangguan neuroanatomis dan neurofisiologis) yang sering diperberat dan dikaitkan karena reaksi alergi atau reaksi simpang susu formula

* GANGGUAN NEURO ANATOMIS : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
* GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan. Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.
Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
* GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
* AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
* GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan. Tidak menyukai tempat yang sempit seperti box bayi atau ruangan kamar yang kecil. Sehingga sering minta keluar ruangan atau halaman luar rumah.
* EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
* GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
* KETERLAMBATAN BICARA: Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, , kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun membaik.
* IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
* Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi)

BERBAGAI JENIS SUSU FORMULA
Susu sebagai minuman utama pada bayi terdiri dari ASI, PASI atau susu formula (comercial formula) dan Non Formula. ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak. ASI juga mengandung zat untuk perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit) dan dapat menjalin hubungan cinta kasih antara bayi dengan ibu. Manfaat bagi ibu dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda kehamilan, mengurangi risiko terkena kanker payudara, dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi ibu.

PASI (Pengganti Air Susu Ibu) adalah merupakan alternatif terakhir bila memang ASI tidak keluar, kurang atau mungkin karena sebab lainnya. PASI adalah makanan bayi yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai berumur enam bulan. PASI dapat dikelompokkan menjadi susu formula awal (starting formula), susu lanjutan (Followup Formula) .dan susu formula khusus (specific formula). Starting Formula biasanya diberikan sejak lahir sebelum usia 6 bulan dan Followup Formula diberikan di atas usia 6 bulan.

Spesific formula merupakan formula khusus yang diberikan pada bayi yang mengalami gangguan malabsorbsi, alergi, intoleransi ataupun penyakit metabolik. Susu formula khusus ini sangat banyak dan bervariasi yang berisi formula tertentu bagi keadaan yang tertentu pula. Diantaranya adalah susu hidrolisa protein ektensif seperti Pepti junior, pregestimil, atau yang paling ekstensif seperti Neocate. Golongan susu tersebut termasuk yang paling aman karena komposisinya tanpa laktosa, mengandung banyak lemak MCT (monochain trigliserida) dan protein susu yang lebih mudah dicerna. Susu formula khusus ini digunakan untuk penderita alergi susu sapi, alergi susu kedelai, malabsorspsi dan sebaginya.

Susu formula khusus lainnya adalah susu hidrolisat protein parsial, seperti NAN HA atau Enfa HA. Golongan susu ini biasanya digunakan untuk bayi yang beresiko alergi atau untuk mencegah gejala alergi agar tidak semakin memberat dikemudian hari. Untuk pencegahan alergi biasanya hanya digunakan sejak lahir hingga usia 6 bulan. Sebenarnya susu ini bukan digunakan untuk penderita alergi susu sapi. Tetapi dalam keadaan gejala alergi yang ringan tampaknya penggunaan susu ini sangat bermanfaat.

Susu formula khusus kedelai atau susu formula soya adalah susu formula yang mengandung bahan dasar kedelai sebagai pengganti susu sapi. Susu formula soya yang saat ini beredar di Indonesia adalah isomil, nutrisoya, prosobee dan sebagainya. Susu formula khusus lainnya adalah susu bebas atau rendah laktosa. Susu formula khusus ini digunakan untuk penderita intoleransi laktosa.

Non formula, merupakan susu yang sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai PASI. Contoh susu non formula adalah susu sapi segar, susu skim atau susu kental manis. Susu ini komposisinya tidak sesuai dengan komposisi yang direkomendasikan oleh FDA atau komposisinya tidak sesuai dengan kebutuhan bayi. Susu formula sangat berbeda dengan susu sapi murni, meski bahan baku susu formula dari susu sapi. Dalam susu formula, ada tambahan nutrisi yang sudah terukur dan disesuaikan dengan gizi yang dibutuhkan bayi. Karena itu, pemberian susu formula kepada bayi harus sesuai dengan kebutuhan bayi dan kandungan yang telah dianjurkan.

STRATEGI PEMILIHAN SUSU FORMULA
Bagaimana strategi atau langkah yang tepat dalam melakukan pemilihan susu formula yang terbaik bagi anak. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan apakah anak mempunyai resiko alergi atau intoleransi susu sapi. Resiko ini terjadi bila ada salah satu atau kedua orangtua pernah mengalami alergi, asma atau ketidak cocokan terhadap susu sapi. Langkah ke dua, harus cermat dalam mengamati kondisi dan gangguan yang terjadi pada anak sejak lahir. Gejala yang harus di amati adalah gejala gangguan saluran cerna, gangguan perilaku dan gangguan organ tubuh lainnya sejak bayi lahir

Bila terdapat resiko alergi dan gejala lain seperti di atas, harus lebih cermat dalam melakukan pemilihan susu. Kalau perlu lakukan konsultasi lebih jauh kepada dokter spesialis alergi anak, gastroenterologi anak atau metabolik dan endokrinologi anak Cermati gangguan organ tubuh yang terjadi terus menerus dan terjadi jangka panjang seperti sering batuk, sesak, diare (buang air besar > 2 kali perhari), sulit buang air besar. Bila terjadi sebaiknya harus lebih dicermati apakah gangguan ini berkaitan karena ketidakcocokan susu formula.

Sering terjadi overdiagnosis dalam menentukan anak menderita alergi susu sapi. Sebaiknya jangan terlalu cepat memvonis alergi susu sapi pada bayi. Reaksi alergi yang timbul bukan saja terjadi karena susu formula. Dalam pemberian ASI, diet yang dikonsumsi ibu juga dapat mengakibatkan gangguan alergi. Dalam keadaan bayi mengalami infeksi batuk, panas dan pilek sering mengalami gangguan seperti reaksi alergi khususnya pada kulit, saluran cerna dan hipersekresi bronkus (lendir yang berlebihan). Hal lain sering terjadi anak divonis alergi susu sapi padahal sebelumnya penggunaan susu sapi tidak menimbulkan masalah kesehatan. Alergi susu sapi biasanya semakin pertambahan usia akan semakin membaik, bukan sebaliknya. Alergi susu sapi biasanya terjadi sejak lahir. Bila gejala alergi baru timbul di atas usia 6 bulan, penyebabnya sangat mungkin bukan susu sapi. Kita harus mencermati alergi terhadap makanan lainnya yang biasanya mulai dikenalkan pada usia tersebut. Penderita alergi makanan, selain alergi terhadap susu sapi juga mengalami alergi terhadap makanan tertentu. Anak yang mengalami alergi susu sapi, ternyata didapatkan sekitar 30 – 40% mengalami alergi susu soya (kedelai). Tetapi susu soya merupakan pilihan pertama untuk anak alergi susu sapi pada usia di atas 6 bulan.

Bila anak mengalami alergi susu sapi yang ringan seperti gangguan kulit dan saluran cerna ringan akan bisa menerima susu sapi tersebut sekitar usia 1 tahun. Bila mengakibatkan gangguan berat seperti batuk, asma dan muntah biasanya akan bisa menerima susu sapi di atas usia 2 hingga 5 tahun.

Bila mencurigai ketidak cocokan susu formula, jangan terlalu cepat memvonis susu sapi adalah penyebabnya. Ketidakcocokan susu formula belum tentu hanya karena kandungan susu sapinya. Gangguan bisa timbul karena kandungan yang terdapat dalam susu formula seperti laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya. Proses pengolahan bahan dasar susu sapi ternyata juga bisa berpengaruh. Beberapa cara proses pengolahan susu sapi tertentu dapat menghilangkan protein tertentu yang dapat menyebabkan gangguan alergi. Perbedaan ini dapat diamati dengan perbedaan bau susu formula tersebut. Susu sapi formula satu dengan yang lainnya kadang bau ketajaman susu sapinya berbeda.

Penggantian ketidakcocokan susu formula tidak harus selalu dengan susu soya atau susu hipoalergenik. Jadi, bila mencurigai ketidak cocokan susu jangan terlalu cepat mengganti dengan susu soya atau susu hipoalergi lainnya. Bila gangguannya ringan dengan penggantian susu sapi formula yang sejenis gangguan tersebut dapat berkurang. Misalnya, penggantian susu yang tidak mengandung DHA gangguan kulit bisa menghilang. Buang air besar yang sulit dengan pengantian susu sapi tertentu yang tidak mengandung kelapa sawit gangguannya membaik. Demikian pula gangguan penderita yang sering batuk, dengan mengganti susu sapi formula tertentu dapat mengurangi gangguan itu.

Pemberian susu formula khusus seperti susu soya, susu peptijunior atau susu hipoalergenik sering dianggap tidak bergizi dibanding susu formula lainnya. Sebenarnya secara umum pendapat ini tidak benar. Setiap susu formula kandungan vitamin, mineral dan kalorinya adalah sama, sudah sesuai standar FDA. Harus sesuai dengan kebutuhan anak menurut usianya. Memang susu tersebut tidak mengandung AA, DHA, dan ”kandungan kecerdasan” lainnya. Padahal penambahan kandungan zat tersebut masih belum terbukti secara klinis. Sedangkan bila susu formula lainnya tetap dipaksakan maka banyak gangguan fungsi organ tubuh dan ganggua perilaku yang dapat terjadi dalam jangka panjang. Hal ini justru akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Selain ketidakcocokan susu, pertimbangan berikutnya dalam pemilihan susu adalah masalah harga. Sesuaikan pemilihan jenis susu dengan kondisi ekonomi keluarga. Harga susu tidak secara langsung berkaitan dengan kualitas kandungan gizinya. Meskipun susu tersebut murah belum tentu kalori, vitamin dan mineralnya kurang baik. Selama jumlah, jenisnya sesuai untuk usia anak dan tidak ada gangguan maka itu adalah susu yang terbaik untuk tumbuh kembang anak tersebut. Semua susu formula susu yang beredar untuk bayi dan anak jumlah kandungan kalori, vitamin dan mineralnya tidak berbeda jauh. Perbedaan harga tersebut mungkin dipengaruhi oleh penambahan kandungan AA, DHA dan sebagainya di dalam susu formula. Pertimbangan lainnya yang penting adalah mudah didapat, baik dalam hal tempat pembelian dan penyediaan produk. Berganti-ganti jenis susu untuk seorang anak tidak harus dikawatirkan selama tidak ada gangguan penerimaan susu tersebut. Bila tidak terdapat resiko dan gejala alergi langkah berikutnya coba susu formula yang sesuai usia anak apapun merek dan jenisnya. Amati tanda dan gejala yang ditimbulkan, bila tidak ada keluhan teruskan pemberian susu tersebut dengan jumlah sesuai yang dibutuhkan anak.

KESIMPULAN
Secara umum prinsip pemilihan susu yang tepat dan baik untuk anak adalah susu yang sesuai dan bisa diterima sistem tubuh anak. Pertimbangan lain adalah pertimbangan harga susu yang harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga dan harus mudah didapatkan di pasaran.

Reaksi simpang makanan yang diakibatkan susu formula bisa disebabkan karena beberapa komposisi yang terkandung di dalamnya. Baik berupa reaksi alergi, intoleransi, atau reaksi simpang lainnya. Reaksi tersebut dapat mengganggu beberapa organ tubuh dan perilaku pada anak.

DAFTAR PUSTAKA

1. Crittenden RG, Bennett LE..Cow’s milk allergy: a complex disorder. J Am Coll Nutr. 2005 Dec;24(6 Suppl):582S-91S.
2. Tokodi I, Maj C, Gabor S.[Cycle vomiting syndrome as a clinical appearance of eosinophilic gastroenteritis]. Orv Hetil. 2005 Oct 30;146(44):2265-9. Hungarian..
3. Paajanen L, Korpela R, Tuure T, Honkanen J, Jarvela I, Ilonen J, Knip M, Vaarala O, Kokkonen J..Cow milk is not responsible for most gastrointestinal immune-like syndromes–evidence from a population-based study. Am J Clin Nutr. 2005 Dec;82(6):1327-35.
4. Kaczmarski M, Wasilewska J, Lasota M..Hypersensitivity to hydrolyzed cow’s milk protein formula in infants and young children with atopic eczema/dermatitis syndrome with cow’s milk protein allergy. Rocz Akad Med Bialymst. 2005;50:274-8..
5. Axelsson I, Jakobsson I, Lindberg T, Benediktsson B: Bovine beta-lactoglobulin in the human milk. A longitudinal study during the whole lactation period. Acta Paediatr Scand 1986 Sep; 75(5): 702-7.
6. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.
7. .Blackshaw AJ, Levison DA: Eosinophilic infiltrates of the gastrointestinal tract. J Clin Pathol 1986 Jan; 39(1): 1-7.
8. Bock SA: Evaluation of IgE-mediated food hypersensitivities. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S20-7.
9. Carroccio A, Montalto G, Custro N, et al: Evidence of very delayed clinical reactions to cow’s milk in cow’s milk-intolerant patients. Allergy 2000 Jun; 55(6): 574-9.
10. Costa M, Brookes SJ. The enteric nervous system. Am J Gastroenterol 1994;89:S29-137.
11. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child
12. Dupont C, Heyman M: Food protein-induced enterocolitis syndrome: laboratory perspectives. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S50-7.
13. Goyal RK, Hirano I. The enteric nervous system. N Engl J Med 1996;334:1106-1115.
14. Hall K. Allergy of the nervous system : a review Ann Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.
15. Hill DJ, Heine RG, Cameron DJ: The natural history of intolerance to soy and extensively hydrolyzed formula in infants with multiple food protein intolerance. J Pediatr 1999 Jul; 135(1): 118-21.
16. INTERNATIONAL CONGR. Effects on Stool Characteristics, Gastrointestinal Manifestation and Sleep Pattern ESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004.
17. Judarwanto W. Effects on Stool Characteristics, Gastrointestinal Manifestation and Sleep Pattern of Palm Olein in Formula-fed Term Infants” 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004
18. Judarwanto W. Dietery Intervention as a Therapy for Behaviour Problems in Children with Gastrointestinal Iacono G, Cavataio F, Montalto G: Intolerance of cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med 1998 Oct 15; 339(16): 1100-4.
19. Judarwanto W. Using Nutrient Dense in Children with Gastroenterointestinal Allergies” 24TH Allergy. World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology and Nutrition tanggal 2 – 7 Juli 2004 di Paris Perancis.
20. Judarwanto W. Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”. 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH ,2004.
21. Kelly KJ: Eosinophilic gastroenteritis. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S28-35.
22. Kelly KJ, Lazenby AJ, Rowe PC: Eosinophilic esophagitis attributed to gastroesophageal reflux: improvement with an amino acid-based formula. Gastroenterology 1995 Nov; 109(5): 1503-12.
23. Kokkonen J, Karttunen TJ, Niinimaki A: Lymphonodular hyperplasia as a sign of food allergy in children. J Pediatr Gastroenterol Nutr 1999 Jul; 29(1): 57-62.
24. Kokkonen J, Haapalahti M, Laurila K, et al: Cow’s milk protein-sensitive enteropathy at school age. J Pediatr 2001 Dec; 139(6): 797-803.
25. Lake AM: Food-induced eosinophilic proctocolitis. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S58-60.
26. Lake AM, Whitington PF, Hamilton SR: Dietary protein-induced colitis in breast-fed infants. J Pediatr 1982 Dec; 101(6): 906-10.
27. Liacouras CA, Ruchelli E: Eosinophilic esophagitis. Curr Opin Pediatr 2004 Oct; 16(5): 560-6.
28. Lindberg T: Infantile colic: aetiology and prognosis. Acta Paediatr 2000 Jan; 89(1): 1-2.
29. Lowichik A, Weinberg AG: A quantitative evaluation of mucosal eosinophils in the pediatric gastrointestinal tract. Mod Pathol 1996 Feb; 9(2): 110-4.
30. Novembre E, Vierucci A: Milk allergy/intolerance and atopic dermatitis in infancy and childhood. Allergy 2001; 56 Suppl 67: 105-8.
31. Sampson HA, Anderson JA: Summary and recommendations: Classification of gastrointestinal manifestations due to immunologic reactions to foods in infants and young children. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2000; 30 Suppl: S87-94.
32. Walker WA: Cow’s milk protein-sensitive enteropathy at school age: a new entity or a spectrum of mucosal immune responses with age. J Pediatr 2001 Dec; 139(6): 765-6.
33. Vaughan TR. The role of food in the pathogenesis of migraine headache. Clin Rev Allergy 1994;12:167-180.
34. Overview Allergy Hormone.Htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.
35. Allergy induced Behaviour Problems in children. Htpp://www.allergies/wkm/behaviour:
36. Brain allergic in Children.Htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.

Oleh : Dr Widodo Judarwanto SpA

Senin, 30 Maret 2009

Bayi Tabung

Diposting oleh Erwin Arianto di 01.44 0 komentar
Pengertian Bayi Tabung
Sering kali kita mendengar ‘ikut bayi tabung aja…’ atau ’anaknya dia dari hasil bayi tabung’. Apa sih sebenarnya definisi atau pengertian bayi tabung itu? Apakah ini adalah cara untuk mendapatkan anak?

Kalau dilihat dari kata ‘bayi’ & ‘tabung’, mungkin bayi tabung berarti bayi dari hasil pembuahan di tabung. Ada juga yang bilang bayi tabung adalah bayi dari hasil tabungan … memang benar juga sih soalnya proses bayi tabung itu tidak murah alias menguras kantong.

Tetapi bayi tabung itu sebenarnya adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh wanita, dalam istilah kerennya in vitro vertilization (IVF).
In vitro adalah bahasa latin yang berarti dalam gelas/tabung gelas (nah nyambung juga kan dengan kata tabung). Dan vertilization adalah bahasa Inggrisnya pembuahan.

Dalam proses bayi tabung atau IVF, sel telur yang sudah matang (seperti masak telur saja ya) diambil dari indung telur lalu dibuahi dengan sperma di dalam sebuah medium cairan. Setelah berhasil, embrio kecil yang terjadi dimasukkan ke dalam rahim dengan harapan dapat berkembang menjadi

Contoh Ke berhasilan Bayi Tabung

Alhamdulillah, akhirnya doa panjang kami terjawab, saya bisa hamil…. Setelah menunggu selama 3 tahun 7 bulan.

Ceritanya, kami mulai program untuk frozen embrio bulan pebruari yang lalu. Setelah saya HSG dan bersihin polip cerviks bulan desember kemaren. Tanggal 9 pebruari sore, akhirnya saya menstruasi, saya sudah rencana dari bulan januari kemaren, tapi karena saya belum dateng bulan akhirnya hanya bisa menunggu.

Tanggal 11 pebruari berangkat ke jakarta. Dari bandara kami langsung ke bunda. Saat konsultasi sempat menyinggung masalah kegagalan bayi tabung pertama. Dari hasil test, saya ada sedikit gejala kekentalan darah. Jadi meskipun gejalanya hanya sedikit tetap dokter ivan kasih ascardia 80mg 1xperhari. Obat yang lain sama aja proginova secara bertahap, 1xperhari selama 3 hari, 2xperhari 3hari dan 3xperhari 3hari, dan folid acid 5 mg 1x perhari. 7 hari lagi kami diminta datang untuk memeriksa ketebalan dinding rahim. Mengingat banyaknya pekerjaan yang ditinggal, setelah konsul kami pulang lagi ke kota kami.

Hari jumat tanggal 20 pebruari, kami ke jakarta lagi. Saat perjalanan dari bandara ke rs bunda, ada telp yang mengabarin dr. ivan gak praktek hari tsb karena sakit. Sbenarnya agak kesal, kenapa baru dikabari. Tapi berhubung sudah dekat, akhirnya kami tetap ke bunda, konsul dengan dokter pengganti. Mungkin karena kami lagi program, sampai disana, kami tidak ditangani dokter pengganti, tapi saya dialihkan ke dokter indra.

Dengan dokter indra, dinyatakan bahwa ketebalan dinding rahim saya sudah cukup, jadi tanggal 24 direncanakan thawing embrio, dan tanggal 25 transfer, jika kondisi telur memungkinkan. Saya agak surprise, sebab proses program BT dengan frozen embrio ternyata sangat simple. Saya tidak diminta datang lagi. Hanya tinggal menunggu kondisi telurnya. Jika baik, saya akan dihubungi oleh pihak morulla kata dokternya. Dr indra kasih resep proginova 2x sehari, ascardia dan polid acidnya diterusin aja, Trus ditambah cygest 1 xperhari (vaginal support) mulai malam ini katanya.

Oya, pada saat menunggu, ada 1 lagi pasangan yang lagi nunggu. Gak lama susternya ngasih selamat, si mbak yang dikasih selamat nangis, ngeliat mereka nangis, saya jadi ikutan nangis juga, suami saya nenangin, sabar katanya, mungkin nanti giliran kita. Saat baca blog ini saya jadi mengira-ngira, apa yang saya liat ini mbak therez ya …?

Tanggal 24, saya gak sabaran nunggu berita, akhirnya saya sms dokter agustin nanya kondisi embrionya. Sorenya baru dibales, dari 3 embrio yang disimpan, semuanya di thawing (dicairkan) dan semuanya dalam keadaan baik. Besoknya (tgl 25) saya diminta datang ke RS Bunda Lt 4 jam 7.30 pagi.
Jam 7.30 hari rabu, kami sudah siap di bunda, diminta minum air putih secara bertahap sebanyak 500cc. ternyata, kami dapat jadwal ke-2. Ada pasangan yang OPU sebelum kami..

Oiya sebelum masuk ruangan kami ketemu sama embriologistnya. Diterangkan tentang kondisi telur kami. Suami saya gemes liat telurnya. Jadi minta kopi filenya. Tapi ternyata disana aturannya gak boleh dikopi. Jadi kami dikasih print outnya saja. Jam 8.15 kami masuk ruangan.

Setelah persiapan, proses ET dilakukan. Cuma sekitar 15 menit prosesnya. Dokter ivan sempet bilang bahwa rahim saya berbentuk hati. Jadi seperti ada 2 ruang dirahim. Tapi tidak ada pengaruh pada proses bayi tabung. Embrio saya diletakkan dokter ivan di rahim sebelah kanan. Setelah itu, saya disuruh istirahat dulu. Setelah ET saya langsung pipis. Soalnya gak tahan lagi. 2 kali malah..

Setelah proses ET, suami saya pesen kamar di bunda. Rencananya kami nginep satu malam aja buat istirahat. Berbeda dengan waktu fresh cycle saya stay di Jakarta sampai test kehamilan, sekarang saya langsung pulang. Sempet beberapa kali Tanya dokter dan search di internet tentang pengaruh buat embrio kalo kita naik pesawat. Dokter ngeyakinin gak ada masalah. Makanya 2 hari setelah ET kami pulang ke kota kami.

Sampai dirumah, besoknya saya langsung kekampus, sebab ada mahasiswa bimbingan saya yang akan seminar tugas akhir. Meskipun agak berat, saya paksain juga pergi, soalnya kasian dengan si mahasiswa. Setelah itu 3 hari saya istirahat dirumah. Tapi akhirnya saya bosen juga. Akhirnya selama menunggu test, saya tetap kekampus dan ngajar. tapi saya kurangi naik turun tangga dan lama-lama berdiri. Sempet juga beberapa kali jalan ke mall dan gramedia.

Oiya setelah ET saya selalu ngerasa sakit pinggang seperti mau datang bulan. Saya tanya ke dokter agustin. menurut dokter ivan, mungkin ada Kristal-kristal di ginjal saya, jadi saya diharuskan minum 750cc pagi saat bangun tidur. Alhamdulillah memang agak berkurang meskipun tidak hilang.

Hari test pun tiba, pagi-pagi saya test darah dan urin di prodia. Sayang hasilnya tidak bisa ditunggu. Mungkin karena prodia dikota kami masih kecil, jadi darahnya masih harus dikirim ke Jakarta. Hasil urin bisa diambil jam 12 hari itu juga. Tapi hasil darah baru bisa diambil besoknya jam 5 sore.

Jam 12 karena penasaran, saya telp prodia. Hasil test urinnya positip, saya senang banget dengernya, karena 2 hari sebelumnya saya sempet test sendiri pake test pack tapi hasilnya negative. Saya langsung hubungi dokter agustin, dokter bilang bahwa ini adalah awal yang baik, tinggal tunggu hasil test darahnya. Ternyata kata dokter agustin, hasil urin sudah positip jika HCG kita diatas 40. Tapi ukuran yang baik adalah > 100. Saya sempet shock sebentar. Tapi akhirnya saya pasrah aja.

Besoknya saya ada jadwal ngajar sore. Harusnya keluar jam 17.20. tapi karena jantung saya rasanya sudah mau copot akhirnya saya keluarin mahasiswa jam 17.05. habis itu saya minta suami saya telp ke prodia. Alhamdulillah ternyata hasil BHCG saya 214. Seneng sekali dengernya. Perjalanan masih panjang. Tapi sementara kami sudah sedikit bernafas lega dan tak hentinya ngucapin syukur. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dr. Ivan, dr. Augustine dan seluruh staff Morulla.

Minggu, 01 Maret 2009

Tahapan Perkembangan “Bicara” Bayi

Diposting oleh Erwin Arianto di 21.43 0 komentar
Dari interaksi sehari-hari, Anda pasti tahu bayi punya bermacam cara untuk mengekspresikan diri. Salah satunya, “bicara” lewat tangisan atau suara-suara yang bikin gemas. Untuk bisa “ngobrol” dengan bayi, Anda harus ingat prinsip 2R (recognize dan responds).

Recognize atau kenali isyarat si bayi. Tanya pada diri sendiri, “Kira-kira bayiku mau ngomong apa ya lewat matanya, mimiknya, gerak tubuhnya, atau suaranya?”
Responds atau tanggapi selalu isyarat komunikasi bayi. Jadi jangan pernah lupa, “Si kecil ingin ngomong sesuatu, tuh.” (dikutip dari: “Building Conversation”, www.babyhearing.org)

Supaya Anda bisa memberikan respons yang tepat, paling tidak ketahui dulu tahapan-tahapan kemampuan “bicara” bayi. Dengan begitu, Anda makin peka menangkap pesan-pesannya.

BARU LAHIR: MENANGIS

Menangis adalah “percakapan sosial” pertama sang bayi. Tangisan di bulan pertama terdengar monoton, baik ketika ia lapar, sakit, ataupun merasa tak nyaman. Melalui tangisan, bayi berinteraksi dengan lingkungan. Ia tengah berkomunikasi untuk menyampaikan kebutuhannya kepada orang lain.

Sebaliknya, dengan menangis si kecil belajar, setiap tangisan ternyata punya makna tersendiri. Penggunaannya berbeda-beda dan bisa ditangkap maksudnya oleh orang lain.

1-4 BULAN: BAHASA TUBUH DAN SUARA VOKAL (smiling, cooing)

Sampai usia 4 bulan, bayi masih banyak berkomunikasi dengan cara menangis. Namun di usia 1,5 bulan si kecil mulai memunculkan tangis yang berbeda-beda. Tangisannya tidak lagi monoton seperti ketika baru lahir. Contoh:

* Bila sakit diungkapkan dengan tangisan melengking keras diselingi rengekan dan rintihan.
* Bila merasa tak nyaman akibat kepanasan atau cari perhatian umumnya bayi mengeluarkan rengekan yang terputus-putus.
* Tangisan lapar terdengar keras dan panjang diselingi gerakan mengisap pada mulut mungilnya.

Di usia ini, selain menangis bayi berkomunikasi dengan menggumam bunyi vokal meski belum begitu jelas. Umumnya terdengar seperti bunyi “aaah” atau “oooh”.
Ada juga yang bergumam “uuuh” dan “eeeh”. Gumaman ini biasanya keluar saat bayi “mengutarakan” perasaan, seperti senang atau tak suka. Ketika gembira diajak bermain, gumaman yang keluar mungkin bernada panjang “aaah”.
Gumaman ini sebetulnya merupakan hasil tekanan pada otot-otot bicaranya.

Di usia 4 bulan, bayi mulai tertawa nyaring dan mampu mengeluarkan suara dari tenggorokan. Jadi, tak lagi hanya sebatas gumaman. Ia juga mulai mengekspresikan keterampilannya menunjukkan bahasa tubuh. Kendati bentuknya masih amat sederhana, seperti tersenyum saat memandang wajah orang yang dikenalnya, mengerutkan dahi ketika merasa tak nyaman, dan mulai memalingkan wajah ke arah sumber bunyi ketika dipanggil.

5-7 BULAN: KELUAR OCEHAN (babbling)

Di usia ini bayi mulai mengeluarkan suara ocehan pendek berupa suku kata (gabungan huruf mati dan huruf hidup), seperti “ba”, “da”. Ocehannya masih terbatas pada bunyi-bunyi eksplosif awal yang muncul karena adanya perubahan mekanisme suara.

Bayi amat senang dengan bentuk komunikasi berupa ocehan ini. Jika gembira bermain, bayi akan mengeluarkan ocehan yang lebih lama dan panjang. Ocehan ini kelak akan berkembang menjadi celoteh (memadukan berbagai suku kata) dan selanjutnya menjadi kata demi kata.

Di usia ini, bayi juga mulai belajar mengomunikasikan perasaannya tidak melulu lewat tangisan. Kalau ia tak suka, misalnya, ia mengeluarkan suara seperti melenguh. Sebaliknya, jika sedang merasa senang, ocehannya bertambah keras. Bahkan akan menjerit kesenangan meski belum dengan nada tinggi.

7-8 BULAN: OCEHAN MENINGKAT (babbling)

Ocehan bayi makin panjang, semisal “bababa” atau “dadada”. Kuantitasnya juga meningkat dengan cepat di antara bulan ke-6 sampai ke-8. Di tenggang waktu ini, orangtua diharapkan memberi stimulasi yang tepat dengan lebih sering mengajak bayi bercakap-cakap dalam intonasi naik turun dan ekspresif agar mudah ditangkap.

8-12 BULAN: KELUAR CELOTEHAN PANJANG (lalling)

Ocehan konsonan-vokal seperti “dadada”, “uh-uh-uh” dan “mamama” akan meningkat jadi celoteh yang maknanya dalam. Pertama, berceloteh adalah dasar bagi perkembangan berbicara. Kedua, celoteh adalah bagian dari komunikasi bayi dengan orang lain. Ini terlihat ketika ia mendapat respons terhadap celotehnya, bayi akan lebih giat berceloteh dibandingkan bila ia berceloteh sendirian. Ketiga, dengan berceloteh bayi merasa menjadi bagian dari kelompok sosial karena celotehnya ditanggapi. Ini akan membuat bayi mengembangkan rasa percaya dirinya yang kelak akan sangat menentukan kemandiriannya.

11-14 BULAN: KATA-KATA PERTAMANYA NYARIS LENGKAP (speaking)

Secara spesifik, bayi mampu mengucapkan satu patah kata yang berarti meskipun belum sempurna/lengkap, misalnya “ma” untuk mama, “pa” untuk papa, “num” untuk minum, dan “nen” untuk menetek. Di usia ini bayi juga sudah mampu melakukan tugas yang diminta seperti “lempar bolanya!” atau “ayo minum” sambil orangtua menunjuk benda yang dimaksud.

MEMBANTU BAYI BELAJAR BICARA

Kemampuan berbahasa yang baik akan muncul jika bayi rajin diajak bicara atau dilibatkan dalam aktivitas bersama.

Di usia 1 tahun, anak diharapkan sudah mampu mengucapkan 1-3 kata yang bermakna. Orangtua harus mulai waspada bila sampai usia 12 bulan, si kecil baru bisa mengoceh (babbling) atau malah baru mengeluarkan suara vokal “aaa” dan “uuu” yang tidak jelas artikulasinya. Jika hal ini terjadi, sangat dianjurkan meminta saran dokter atau psikolog. Biasanya mereka akan menunjuk seorang speech therapist (terapis wicara) untuk membantu orangtua memberikan stimulasi yang tepat.

Membantu bayi belajar bicara bisa dilakukan dengan cara seperti yang dijelaskan Lise Eliot, Ph.D. Beliau adalah penulis buku What’s Going on in There? How the Brain and Mind Develop in the First Five Years of Life (Bantam, 1999).

* Sering mengajak bayi bicara

Jangan dulu membayangkan padatnya jadwal mendongeng, mengulang-ulang alfabet, atau membalik-balik “flash card” di hadapan si bayi, sebab ayah dan ibu hanya perlu mengajaknya ngobrol. Kapan ngobrol-nya? Sejak bayi lahir, sampaikan apa yang sedang Anda lihat, dengar, atau lakukan dengan kata-kata. Begitu pula, tanggapi selalu ajakan berkomunikasinya entah itu berupa tangisan, gumaman, ocehan, atau celotehan. Tujuan keduanya agar ia merasa dilibatkan.

Lewat percakapan yang “bodoh” sekalipun, kepekaan awal bayi untuk mendengar kata-kata akan meningkat. Misalnya, “Halo Sayang, tunggu sebentar ya, Ibu siapkan ASI untukmu.” Atau, ‘Lihat nih, Ayah baru pulang dari kantor. Wah, tas Ayah berat. Kamu mau bantu angkat, Sayang?” Mendengar percakapan akan membantu meningkatkan sensitivitas awal bayi pada kemampuan berbicara. Ia juga mulai belajar mengenali suara ayah-ibu berikut intonasi yang beragam.
* Bermain bersama

Bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan. Bermain sekaligus juga mengajari bayi pentingnya membina hubungan sosial. Bukankah bermain mengajarinya mengenal aturan dan kebersamaan? Setiap kali Anda bermain dengannya, kenalkan aturan permainan dan jangan ragu untuk menyampaikannya. Ketika bermain cilukba, misalnya, terangkan, “Ibu akan menutup matamu ya. Kalau Ibu bilang ‘cilukba’, buka matamu ya.” Dengan mengulang-ulang secara rutin, bayi akan memahami aturan permainan. Pada akhirnya dia juga akan mengerti bahwa aturan bersama (social agreement) sering kali dijabarkan lewat kata-kata.
* Tunjukkan rasa cinta

Dalam situasi penuh cinta, bayi akan mampu belajar banyak. Kenapa? Karena ekspresi cinta mendorong orangtua untuk bicara dan bertindak dengan cara yang menyenangkan juga membangkitkan antusiasme si kecil.
Penelitian yang dilakukan Eliot mengungkapkan, anak-anak yang cerdas bertutur dan memiliki banyak perbendaharaan kata umumnya punya orangtua yang sering mengajak mereka berdiskusi, bahkan sejak bayi.

Mengenal Perkembangan Bayi

Diposting oleh Erwin Arianto di 21.33 0 komentar
Mengenal Perkembangan Bayi

Perkembangan bayi mencakup kemampuan perseptual, motorik (gerakan tubuh), kognitif,dan keterampilan sosial. Pertumbuhan dan perkembangan setiap bayi tentu tidak selalu seragam. Maka tidak perlu kaku dalam menilai kemajuan perkembangan bayi. Standar yang dibakukan sebagai tahapan perkembangan merupakan bahasa statistik. Mayoritas bayi normal sudah mencapai tahapan perkembangannya sejalan dengan umurnya.

Jangan cepat cemas dulu apabila perkembangan bayi kita tidak persis sesuai standar baku sepanjang masih dalam batas-batas normal Apabila terjadi kelambanan perkembangan yang ekstrem, perlu mendapat perhatian setiap orangtua.

Umur Bayi –> Tahapan Perkembangan
3 - 4 bulan –> Mengangkat kepala
4 bulan –> Tengkurap
5 bulan –> Berguling
6 bulan –> Mengangkat dada dan perut atas saat tengkurap
8-9 bulan –> Merangkak
10-11 bulan –> Merambat-rambat sekitar kursi
9-12 bulan –> Meraih mainan saat duduk
11-12 bulan –> Posisi berdiri
15 bulan –> Berjalan
18 bulan –> Berlari dan masih terjatuh
2 tahun –> Lancar berjalan dan berlari
3 tahun –> Berdiri dengan satu kaki beberapa saat
4 tahun –> Berlari, melompat, memanjat, naik sepeda roda tiga
5 tahun –> Melompat dengan satu kaki, main sepatu roda,renang, memanjat

Tabel di atas menunjukkan tahapan perkembangan umum seorang bayi. Dari bulan ke bulan sejak lahir, bayi juga memperlihatkan tahapan perkembangan yang lebih rinci. Namun bagi orangtua, cukup mengamati pokok-pokok tahapan penting perkembangannya saja. Tujuannya agar mampu menilai kapan suatu tahapan perkembangan bayi tergolong abnormal.

KONSULTASI DOKTER KALAU ABNORMAL

Untuk bayi berumur 8-12 bulan, konsultasikan ke dokter apabila

* belum bisa merangkak
* tak bisa tengkurap
* tidak dapat mencari barang yang disembunyikan di depannya
* belum bisa mengucapkan satu-dua patah kata
* tidak mampu menirukan gerakan-gerakan tubuh, belum bisa melambaikan tangan, atau menggelengkan kepala
* belum bisa menunjuk barang atau gambar.

Untuk bayi 2 tahun, waspada apabila

* belum bisa berjalan
* beberapa bulan sesudah bisa berjalan, berjalannya abnormal
* belum bisa berbicara sedikitnya 15 kata pada umur 18 bulan
* belum bisa merangkai kalimat dengan dua kata pada umur 2 tahun
* tidak tahu fungsi alat-alat di rumah seperti telepon, sendok-garpu, sikat gigi
* belum mampu menirukan gerakan tubuh atau kata-kata
* belum bisa mengikuti tugas yang sederhana
* belum bisa menggerakan mainan beroda.

Balita berumur 3 tahun, perkembangannya dinilai abnormal, apabila

* masih sering terjatuh waktu berjalan, dan belum bisa menaiki tangga rumah
* ucapannya tidak jelas
* belum bisa membentuk menara dari balok mainan
* belum mampu berkomunikasi dengan frasa pendek
* belum bisa bermain jadi ibu-ibuan/ayah-ayahan
* gagal memahami perintah yang sederhana
* tidak interes pada anak lain
* susah berpisah dari ibu.

Bagaimana dengan balita berumur 4 tahun? Amati dan waspada apabila

* belum bisa melempar bola
* belum bisa melompat
* belum bisa naik sepeda roda tiga
* masih menangis (mengadat) bila ditinggal pergi orangtuanya
* tidak interes bila bermain yang bersifat interaktif
* acuh tak acuh terhadap anak lain

Anak berumur 5 tahun sudah lebih matang perkembangannya. Dinilai abnormal apabila

* sangat penakut
* berperilaku agresif
* tidak bisa berpisah dari kedua orangtua tanpa memprotes
* tidak mampu berkonsentrasi lebih dari lima menit
* interesnya rendah saat bermain dengan anak lain
* menolak berespons terhadap orang-orang dekat, dan responsnya datar saja.

Anak dengan keabnormalan perkembangan perlu dikenali lebih dini. Mungkin di balik itu ada sesuatu yang perlu dikoreksi. Siapa tahu memang ada penyakit yang perlu dilacak lebih lanjut. Sebagian saja terjadi lantaran kekeliruan orangtua.

PERLU STIMULASI PENGASUH

Bayi tak mungkin berkembang normal tanpa distimulasi. Stimulasi harus datang dari orangtua, atau pengasuhnya. Stimulasi fisik berupa pijatan khusus; stimulasi gerakan dengan latihan motorik anggota gerak (kinetik), menirukan gerakan; stimulasi suara dan bunyi; mengajak berbicara, mendengar dongeng, menirukan bunyi, melihat dan membedakan warna, stimulasi bertanya, mendengar musik; keterampilan memegang barang, memainkan mainan, menangkap dan melempar bola; berlari dan mengejar, serta melaksanakan perintah.

Bagi ibu bekerja, siapa pun yang mendapat mandat menjadi pengasuhnya selama ibu tidak di rumah harus dibekali kemampuan memberikan stimulasi pada perkembangan anak dari jam ke jam. Pengasuh yang “bisu” atau kurang banyak berbicara akan menciptakan anak yang lamban berbicara. Pengasuh yang kurang hirau pada anak, akan menciptakan anak yang melempam perkembangannya. Peran pengasuh sangat besar, selain menentukan perkembangan anak.

MENGASUH DENGAN SERBA TIDAK BOLEH

Manakala mobilitas bayi sudah mulai banyak, begitu mulai pandai berjalan, bahaya rentan dialami. Terjatuh, terpeleset, terbentur, terantuk, tercedera, peristiwa yang sebetulnya terantisipasikan. Namun berbeda dengan gaya pengasuhan di Barat, orangtua kita cenderung terlalu takut dalam menjaga anak.

Anak yang terlampau dilindungi, dan dijaga, rasa percaya dirinya kurang bertumbuh. Anak jadi serba takut melakukan ini-itu yang baru. Padahal anak perlu mengeksplorasi sekujur lingkungannya. Perlu selalu mencoba hal-hal, kegiatan, atau suasana yang baru tanpa merasa diri terkungkung, atau terlalu diawasi.

Yang benar, biarkan anak memperkaya pengalamannya terjatuh, misalnya, sambil terus memonitor gerak-geriknya. Biar anak lebih leluasa mengenal lingkungannya dengan akrab. Selama eksplorasi anak terhadap lingkungannya tidak sampai mengancam jiwanya, atau diantisipasi bisa membahayakan dirinya, orangtua dan pengasuh tidak perlu terlalu mengintervensi. Untuk itu anak harus diajuhkan dari segala yang bisa mengancam keselamatannya, atau berpotensi membahayakan dirinya.

“CHILD SAFETY FIRST”

Untuk itulah mendahulukan keamanan bagi lingkungan anak (child safety first) sangat diperlukan. Rata-rata kita sering mengabaikan hal ini, sehingga tidak jarang bayi terancam, dan menjadi korban kelalaian orangtuanya. Bayi belum mampu mengantisipasi kondisi berbahaya. Jadi apa pun bentuk dan wujud kondisi yang tidak sehat tersebut, bayi berhak mendapat pengamanan dari orangtua, atau pengasuhnya.

Sebut saja, pengamanan tangga rumah, tidak bermain sendiri di tepi kolam renang; jauhkan dari menyentuh saklar listrik atau kabel listrik; tak boleh ada benda tajam di dekat bayi, seperti pisau, gunting, jarum. Jangan biarkan anak menjangkau lemari obat, bahan kimiawi pembersih rumah (karbol, lisol, pemoles lantai); tidak bermain di dapur; dan jangan lupa, berbahaya meninggalkan bayi terkunci sendiri dalam mobil, atau berkendara tanpa pengaman khusus bagi bayi dengan pintu mobil disetel tidak dapat dibuka dari dalam.

Sumber : dr. Handrawan Nadesul, http://www.sahabatnestle.co.id/

 

Info Ibu, Bayi & Keluarga Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea