Senin, 27 April 2009

Prasangka Baik

Diposting oleh Erwin Arianto di 23.07
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Berdasarkan wikipedia prasangka berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Sebagai manusia kita pasti suka berprasangka. Entah itu prasangka baik maupun buruk. Namun sangat dianjurkan agar kita selalu berprasangka baik, agar tercipta persahabatan dan perdamaian. Alangkah baiknya bila kita bisa selalu berprasangka baik terhadap perbedaan dan tidak memaksakan pendapat. Kata Euclides: "Orang yang kondisinya paling buruk adalah orang yang tidak percaya kepada seorang pun karena prasangka jeleknya, dan tidak dipercaya oleh seorang pun karena perbuatan jeleknya.

Sejak dilahirkan ke muka bumi ini, manusia mulai mengembangkan segala bekal yang dimilikinya. Yang paling mudah untuk dikenali adalah apa-apa yang ada di raganya, salah satunya adalah ‘pikiran‘, yang menghubungkan manusia dengan segala yang ada di Alam Ragawi, sejak saat itu pula manusia belajar menggunakan ‘pikiran’-nya, dan sejak saat itu pula ‘pikiran’ beranjak mendominasi fungsi Hati. Dan manusia cenderung untuk selalu mengedepankan kemampuan ‘pikiran’, akibatnya kemampuan ‘Hati’ menjadi semakin jarang digunakan.Prasangka bisa berupa prejudice yang membutakan akal pikiran kita. Menutup munculnya sebuah sebuah opsi lain. Padahal bisa saja ada sisi kemungkinan lain yang kita tidak pernah tahu. Ini sangat berbahaya, karena manusia bisa saling menghancurkan karena ketidaktahuan.

Pikiran adalah bagian dari Alam Ragawi ini, ia tidak bisa menjangkau alam-alam lainnya yang lebih tinggi statusnya, ia tidak mampu menjangkau Nurani kebenaran yang hakiki. ‘Pikiran’ bahkan juga tidak mampu menjangkau sesuatu yang ada dalam diri manusia lain. Untuk wilayah-wilayah yang seperti itu, ‘pikiran’ hanya membuat dugaan, membuat persangkaan. Ketika itulah manusia berada titik rawan, ia mudah tertipu, termanipulasi oleh ‘pikiran’-nya sendiri, bisa memprasangkai adanya sesuatu yang bahkan sebenarnya tidak pernah ada. Ditambah lagi dengan tergesa-gesa menyimpulkanlengkaplah sudah. prasangka itu hampir selalu mengikuti keinginan hawa nafsu, Menyadari hal tersebut, hendaklah kita segera menepis segala lintasan pikiran, dugaan, prasangka (atau entah apa lagi namanya), sehingga kita tidak terjerumus ke dalam hal yang tidak teringinkan.

Alangkah enaknya kalo kita bisa hidup tidak dengan prasangka buruk, tidak dengan pandangan curiga terhadap lingkungan sekitar, tidak menuduh sembarangan hanya karena perasaan berkata demikian. kita diperintahkan untuk selalu berbaik sangka dan jangan berburuk sangka. Orang yang banyak prasangka buruk cenderung lebih mudah stress, salah satunya dikarenakan prasangka buruk itu menimbulkan banyak kekhawatiran yang tidak perlu. Jauh hari seorang guru sudah mengingatkan saya agar jangan berprasangka buruk.Berbaik sangka pada Mahluk, dan hadapi hidup ini dengan senyum di wajahmu serta keikhlasan di hatimu… begitu beliau berpesan. Sesuatu yang penting kita harus menanggalkan subjektivitas prasangka buruk. subyektivitas adalah ‘kebiasaan’ yang ‘mengatur’ kehidupan. Kita jarang mau ‘melihat’ sesuatu berdasarkan obyek apa adanya, obyektif. Ukuran-ukuran sesuatu berdasarkan pandangan, pikiran kita, bukan berdasar sesuatu itu.

Perlu kita ketahui nilai dasar dalam menjalin hubungan dengan manusia yang akan menjadi benih keahlian interpersonal adalah dengan memiliki prasangka baik lebih dahulu. Memang pada prekteknya tidak semua manusia pantas menerima predikat baik atau minimalnya baik-baik saja tetapi kalau dikalkulasi untung-ruginya, lebih untung berprasangka baik ketimbang berprasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka buruk yang kita jadikan tesis lebih sering menghalangi sinar karakter yang sebenarnya kita miliki dan karena sinar telah redup maka membuat kita menjadi benar-benar tertipu. Padahal kalau mau jujur, hukum alam ini sering mendemonstrasikan dirinya, orang yang tertipu karena prasangka baik atas orang lain lebih enak hidupnya ketimbang orang yang menipu.Prasangka baik dalam bahasa psikologi disebut sugesti positif. Prasangka baik perlu dimiliki seseorang jika ingin meraih kesuksesan dan keberhasilan. Sugesti positif selain mencerminkan kesucian hati, juga menjadi doa, harapan, dan optimisme seseorang untuk selalu bangkit dari berbagai kegagalan dan keterpurukan.

Jika kita menumbuhkan prasangka baik pada seseorang dalam diri kita,hal ini akan lebih banyak menenagkan suasana hati kita,dari situ pula kita bisa sekaligus berlatih bagaimana menjadi orang penyabar dan ikhlas menerima kenyataan dalam hidup. Dengan demikian, kita dapat ‘memulai’ sesuatu dari titik nol, ‘melihat’ sesuatu dari sumber kejernihan. Pikiran dan emosi jadi jernih, tanpa embel-embel prasangka. Aturannya, jangan berprasangka buruk, dahulukan prasangka baik.Apabila kita bisa membersihkan pikiran dan hati dari prasangka, berarti ‘mata hati’ bebas dari segala hal, kecuali suara hati. Ini berarti kita bebas ‘menimbang’ prinsip-prinsip hidup kita. Jadi Mari kita tumbuhkan prasangka baik, dan hilangkan prasangka buruk dalam hidupkita.


Prasangka baik itu merupakan kekuatan penting untuk menyelesaikan masalah!
depok 27 April 2009

Selasa, 14 April 2009

Selalu Ada cinta untuk Sang buah Hati

Diposting oleh Erwin Arianto di 21.45
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Sabtu Pagi itu tepat di pasar Pal, Jalan raya bogor persimpangan akses ui dengan Jalan raya bogor, di pasar itu saya melihat seorang ibu yang memarahi anaknya dengan kata-kata kasar, dengan cubitan di paha anak tersebut yang membuat anak kecil itu menangis dan tak henti-hentinya, saya memberanikan diri untuk menanyakan kepada ibu tersebut "kenapa anaknya bu" tanya saya singkat kepada ibu tersebut.

"Ini anak, kalau kepasar pasti mintanya jajan terus, kemarin sudah beli mainan, sekarang minta beli mainan lagi, dan dia mengambek dan teriak-teriak di tanah, lagian kan saya bawa uang cukup untuk belanja doang" ungkap ibu itu dengan logat jakarta yang kental, "oh kenapa di cubit & dimaki kan kasihan bu" lanjut saya kepada ibu tersebut. "ya gimana engga dimarhi abis kesel banget di bilangin kagak ngarti-ngarti bandel banget deh ni anak" ucap ibu tersebut "memang dia minta apa bu, tanya saya lagi" si ibu menjawab "itu dia minta dibeliin pedang-pedangan yang bisa nyala"

Sering hanya kareana masalah sepele kita sebagai orang tua melakukan tindakan yang tidak seharusnya kepada anak-anak kita ketika anak bertingkah nakal, atau ketika mereka membangkang dari apa yang kita perintahkan, terkadang juga terkeluar makian yang kasar yang membuat kita sebagai orang tua berubah seperti monster bagi anak kita. Sadarlah mereka hanya anak-anak yang memang belum matang secara kejiwaan, mereka dalam tahap belajar dari lingkungan, wajar jika sekali-kali mereka berbuat salah, dan sadar bahwa jiwa anak-anak sangat rapuh untuk bisa mencerna kata-kata kasar kita atau bahkan gerakan hukuman fisik yang kita berikan.

Terkadang tanpa disadari kesalahan bukan pada anak kita, melainkan pada kita sebagai orang tua yang terlalu kaku mungkin maksud kita baik tapi akan berbeda yang ditangkap oleh anak kita, terkadang sifat kaku kita bisa mengekang kebebasan mereka bermain atau memilih. perlu disadari anak adalah yang berhak dan bebas memilih untuk melakukan yang terbaik menurut mereka. Tugas orang tua bukan melarang atau memerintah, tapi lebih kepada mengarahkan agar mereka tetap berada pada jalur yang sebenarnya.

membayangkan hal tersebut sungguh miris rasanya, haruskah malaikat-malaikat kecil memdapat perlakuan kasar, melihat senyuman yang lugu pun membuat hati begitu tenang, seorang sahabat pernah bercerita bahwa beliau sering mendengar buah hatinya mengigau dan berteriak ketakutan. dan ternyata hasil diskusi lebih jauh menjelaskan bahwa siangnya anak tersebut dapat makian atau kalimat kasar dari ibunya, karena tidak mau makan sayur. Tidak kah anak dilahirkan untuk disayangi?

Lihatlah buka mata & hati anda, bahwa anak-anak tidak akan membenci orang tuanya walaupun terkadang orang tua sering berbuat kasar kepada anaknya. lihatlah ketika anak-anak menangis atau memerlukan bantuan yang terucap dari bibir mungil mereka adalah ibu.... atau ayah.... buahhati kita tidak pernah berdosa kepada orang tuanya, semua mereka lakukan karena mungkin tak sadar kalau apa yang dikerjakan adalah sebuah kesalahan.

sayangilah anak anda, sadarilah bahwa buah hati kita ada untuk di bimbing dan dicintai, hentikan berbuat kasar kepada anak-anak. biarkan mereka menikmati waktu kecilnya dengan indah. sadarlah cintai anak anda mulai sekrang atau anda bisa mencintai anak anda saat mereka terbaring tak berdaya, atau anda baru menyesal dan merasa kehilangan ketika anak anda telah tiada. Selalu ada cinta untuk sang buah hati. Mari sayangi anak-anak kita.

" menatap kepolosan anak-anak, memberi keteduhan jiwa "

Depok, 11 April 2009
Erwin Arianto
 

Info Ibu, Bayi & Keluarga Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea