Selasa, 07 Juli 2009

MAINAN BAYI 6-9 BULAN

Diposting oleh Erwin Arianto di 01.35
Reaksi: 
1 komentar Link ke posting ini

MAINAN BAYI 6-9 BULAN

0

Ditulis oleh farida | Ditulis di mainan bayi | Ditulis tanggal 13 Jun 2008

Gunakan terus mainan si kecil sebelumnya. Anda akan kagum melihat respon dan ketrampilannya yang meningkat drastis. Mainan-mainan yang ada masih tetap berfungsi untuk melatih kemampuannya duduk sendiri, merangkak, berdiri, merambat dan akhirnya belajar berjalan.

Mainan tambahan pada tahap ini adalah:

  • keluar rumah. Dengan melihat pepohonan, rumput, kendaraan, binatang, anak-anak, dan sebagainya, keingintahuan anak akan terpuaskan dan kecerdasannya bertambah
  • bola. Ini akan jadi mainan favorit bayi. Biarkan dia bereksplorasi dengannya
  • botol plastik bertutup berisi kacang, beras, makaroni dan sejenisnya. Amati reaksi/keheranannya saat menggoyang-goyangkan botol tersebut. Ia sedang menyimak suara yang ditimbulkan benda di dalamnya
  • benda jatuh. Taruhlah mainannya di atas kepala Anda, goyang-goyangkan kepala hingga mainannya jatuh. Sertai dengan ekspresi yang lucu. Dia akan senang sekali melihatnya
  • panggil namanya. Tunggulah hingga ia menoleh kepada Anda
  • mainan yang bergerak. Untuk merangsang rasa ingin tahu si kecil dan membuatnya semakin fokus pada suatu benda
  • gelembung sabun. Permainan berupa gelembung sabun sangat menarik. Amati reaksi gembira yang diluapkannya. Hanya saja pastikan tak ada gelembung yang menghampiri wajah si kecil. Bila pecah tepat di dekat matanya dikhawatirkan bisa menimbulkan perih
  • high chair/ meja pendek.Taruh beberapa mainan di atasnya. Benda ini bisa digunakan agar si kecil betah berlama-lama dalam posisi duduk. Jika menggunakan meja lipat, pilih yang kakinya kokoh sehingga tidak terlipat saat terkena tendangan si kecil
  • ayunan. Membantunya belajar keseimbangan dan sangat menyenangkan bagi bayi
  • finger food. Makanan berukuran kecil ini dapat mengembangkan koordinasi tangan dan mata bayi. Sekaligus melatih perkembangan motorik halusnya. Ketika ia berhasil mengambil makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya, ia akan merasakan rasa “kekuasaan” dan kontrol, sehingga membuat mereka merasa hebat
  • melambaikan tangan dan bersalaman. Banyak sekali kesempatan untuk mempraktekkan permainan ini. Mereka belajar membuat ikatan
  • mainan yang dimasukkan ke dalam wadah. Anda bisa memberikan wadah plastik dalam berbagai ukuran dan tunjukkan bahwa benda yang kecil dapat disimpan ke dalam benda yang lebih besar
  • mainan miniatur. Misalnya peralatan dapur. Rangsanglah rasa ingin tahu bayi. Tapi jangan berikan mainan yang bisa menimbulkan bahaya seperti bentuk garpu atau pisau. Biarkan ia menyentuh dan memainkannya sambil kita jelaskan satu per satu fungsi alat dapur itu
  • remote control/handphone mainan. Lihatlah betapa asyik dan takjubnya si kecil dengan hasil dari pencetannya. Untuk hasil yang sama, Anda juga bisa membuat suara imitasi untuk setiap geraknya. Misalnya: ketika ia memukul benda katakan, “duk-duk”, ketika ia melempar katakan, “tuing”, ketika ia pegang hidung Anda katakan, “toet”, ketika ia pegang pipi Anda katakan, “bum-bum”, dll
  • mainan yang dibungkus. Bungkuslah mainan-mainan si kecil menyerupai kado. Biarkan si kecil berusaha membuka bungkusan tersebut satu-persatu. Lihatlah reaksinya


Bayi Harus Lewat Tahapan Merangkak?

Diposting oleh Erwin Arianto di 01.30
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Mother And Baby Thu, 24 Jan 2002 14:00:00 WIB

Nakita online/Nomor 146/Tahun III/19 January 2002

Bayi tak merangkak? Tak usah cemas! Itu bukan tonggak penting untuk perkembangannya, kok. Ada ibu yang khawatir ketika bayinya belum juga ada tanda-tanda akan merangkak. Sebaliknya, ada juga yang terheran-heran, kok, bayinya tidak melewati masa merangkak, tapi malah langsung bisa berdiri. Sebetulnya, bagaimana, sih, fase merangkak ini? Apa perlu orang tua mencemaskannya?

ANTARA FASE DUDUK DAN BERDIRI
Tahap pergerakan bayi, menurut dr. Waldi Nurhamzah, SpA, staf pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mulai dari bagian atas tubuh sampai bawah. Ada pola pengembangan otot dari atas ke bawah. Jadi, kemampuannya mulai dari bagian kepala seperti bisa tersenyum, main mata, dan lainnya, sampai kemudian kemampuan pada kaki, seperti menggerak-gerakkannya.

Pada usia 6-10 bulan mulailah terjadi koordinasi atau perkembangan yang lebih nyata antara tangan dan kaki. Meski saat itu otot-otot tangan berkembang lebih dulu dari otot-otot tungkai. "Jadi, tangan lebih banyak pergerakannya dari kaki." Sehingga nanti akan terlihat, mobilitas atau koordinasi tangan lebih baik dari kaki dan lainnya. Kemudian pada masa usia akhir bayi atau 11-12 bulan, mungkin koordinasi kaki lebih baik lagi.

Sementara merangkak berada pada usia 7-10 bulan, di mana bayi mulai belajar melakukan pergerakan dengan koordinasi antara tangan dan kaki. "Fase ini berada pada fase antara duduk dan berdiri." Namun, koordinasi tangan ataupun kaki yang baik tidak harus dengan merangkak saja. Mungkin saja saat itu bayi berguling dengan bagus dan dia menggunakan tangannya, atau bayi duduk dengan menggerak-gerakkan kakinya.

BUKAN TONGGAK PENTING
Jadi, merangkak yang merupakan transisi antara duduk dan berdiri ini, tidak harus ada pada setiap bayi. Ia bukan milestone atau tonggak penting perkembangan, seperti halnya duduk ataupun berdiri yang memang harus ada.

Pendek kata, tegas Waldi, merangkak tak dipakai sebagai suatu patokan penting untuk pertumbuhan. "Bukan sebagai kunci penting. Ada anak yang tanpa merangkak dan langsung berdiri juga boleh-boleh saja." Juga tidak berkaitan dengan kecerdasannya, lo. Karena kecerdasan, kan, tidak tergantung dari merangkak saja, tapi pada perkembangan lainnya.

"Bukan berarti pula bayi yang melewati fase merangkak, koordinasinya lebih bagus. Karena, koordinasi tangan dan kaki tidak harus dengan bentuk merangkak saja. Bisa juga dalam bentuk bermain-main dengan tangan dan kakinya."

Pada bayi-bayi yang tidak merangkak, tapi menggunakan dan mengembangkan tangan dan kakinya dengan baik, menurut Waldi, pun tak apa-apa. Misalnya, si bayi duduk, kemudian tangannya ke mana-mana, semisal ingin menjangkau tepi meja untuk belajar berdiri.

Saat merangkak, menurut Waldi, sebenarnya bayi belajar. "Awalnya bisa tengkurap tanpa dibantu. Setelah itu tangannya mulai digerak-gerakkan. Mula-mula mungkin dengan ngesot, kadang bukannya maju tapi mundur, kemudian tungkai dan kakinya mulai digerak-gerakkan juga sehingga semua tangan dan kakinya ikut bergerak." Kadang ada juga bayi yang tidak bisa menekukan kaki belakangnya sehingga dia menungging. Selain itu, otot punggungnya pun menahan tubuhnya agar berada di atas lantai. Ada juga beberapa bayi yang terkadang jatuh lagi perutnya ke lantai. Semua ini, papar Waldi, "Tak jadi masalah."

Nah, agar si bayi kemudian bergerak maju mengkoordinasi-kan tangan dan kaki, orang tua bisa merangsangnya dengan menaruh mainan yang menarik perhatiannya di depan pandangannya., "Sehingga dia akan 'berjalan' ke arah tempat tersebut."

TAK MERANGKAK
Memang, aku Waldi, ada juga bayi yang tidak melewati fase merangkak karena misalnya ada kelainan saraf, otot-ototnya lemah, cacat bawaan, atau ada suatu kerusakan di otaknya. "Jika itu yang terjadi,sebetulnya semua perkembangannya dari awal pun sudah terlambat. Bukan cuma fase merangkaknya saja. Dengan kata lain, perkembangannya tidak seperti yang dijadwalkan persis. Misalnya,tidak bisa tengkurap di usia 3 bulan, tidak bisa duduk di usia 7 bulan."

Tapi bisa juga, terang Waldi,awalnya semua normal dan perkembangannya juga bagus. Anak bisa tengkurap tanpa dibantu, bisa duduk, tapi kemudian dia terkena suatu penyakit yang menyebabkan otaknya rusak atau ada yang tak beres. "Otomatis perkembangannya berhenti di fase merangkak tersebut danbahkan mungkin perkembangannyamundur lagi."

Yang pasti, tidak adanya fase merangkak ini tak memberi indikasi pada suatu kelainan tertentu, semisal autis. "Sekali lagi, merangkak bukan tonggak penting pertumbuhan anak."Ironisnya, lanjut Waldi, orang tua dengan bayi yang misalnya karena suatu sebab dan mengalami pembedahan yang menyebabkan usus besarnya harus dibuatkan pintu keluar sementara di perut (kolostomi), malah takut jika anaknya merangkak. "Padahal, sebetulnya tak masalah juga, justru bagus untuk perbaikan motorik anak.Tak usah khawatir tinja anak akan belepotan ke mana-mana atau ususnya akan berdarah-darah karena tergesek. Asalkan orang tua menjaga keamanan di daerah sekitar perutnya tersebut. Caranya dengan memberi tutup ususnya yang bagus dan diberi bantalan kain yang tebal di sekitarnya, aman-aman saja, kok."

KEAMANAN KALA MERANGKAK
Sebenarnya, papar Waldi, yang harus diperhatikan orang tua adalah lingkungan sekitar saat anak mulai belajar merangkak."Selain menggunakan motorik kasar dengan merangkak, anak juga memakai motorik halusnya, seperti memegang, meraih atau menjumput benda-benda, memasukkan benda ke dalam mulut, dan sebagainya. Nah, saat-saat itulah orang tua perlu ekstra hati-hati."

Karena itu, ada istilah,saat anak mulai merangkak, orang tua juga harus ikut merangkak. Maksudnya, agar orang tua juga bisa melihat apa-apa saja yang bisa terjadi seandainya merangkak. Kalau posisi orang tua berdiri, tentunya tidak akan tahu jika ada kutu kecil di lantai, jarum atau barang kecil lainnya, yang bisa saja dimasukkan anak ke dalam mulutnya. Termasuk stop kontak, kabel listrik, dan hal-hal bahaya lainnya. "Sebelum meletakkan bayi di lantai, periksa dulu, sudah aman atu belum. Itu yang paling penting kalau bicara soal anak merangkak," tegas Waldi.
 

Info Ibu, Bayi & Keluarga Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea